PENDAHULUAN Meningkatnya kesadaran konsumen akan kesehatan menyebabkan konsumen memilih produk pertanian (lada) yang bermutu tinggi dan benar-benar aman, diproduksi dengan cara ramah lingkungan, kesinambungan produk terjamin dan harga juga kompetitif. Produk lada yang benar-benar aman yaitu bila produk tersebut bebas bahan kimia/pestisida dan kontaminasi mikroba berbahaya bagi kesehatan manuasia. Dalam pelaksanaan revitalisasi pertanian (lada) kebijakan dan strategi umum pemerintah adalah mengurangi kemiskinan, meningkatkan daya saing, melestarikan dan memanfaatkan lingkungan hidup serta sumberdaya alamnya secara berkelanjutan. TUJUAN Tujuan penerapan budidaya lada yang baik adalah:1. Meningkatkan produksi dan produktivitas2. Meningkatkan mutu hasil termasuk keamanan konsumen3. Meningkatkan efisiensi produk dengan memanfatkan sumberdaya alam semaksimal mungkin4. Memperbaiki/mempertahankan kesuburan lahan dan kelestarian lingkungan5. Memotivasi petani dan kelompok untuk memiliki sikap bertanggung jawab terhadap kesehatan dan keamanan diri serta lingkungan.6. Meningkatkan peluang penerimaan produk lada oleh pasar internasional7. Memberi jaminan keamanan terhadap konsumen KOMPONEN BUDIDAYA 1. Pemilihan LahanTanaman lada tumbuh baik pada ketinggian tempat kurang dari 1000 meter dpl, kemiringan lahan sebaiknya kurang dari 10° dengan curah hujan anatara 2000-3000 mm dan musim kemarau yang jelas untuk merangsang pembentukan bunga. Kelembaban udara berkisar 70 % dengan suhu antara 25°C - 30°C.Jangan menggunakan lahan bekas tanaman coklat atau karet yang sakit akibat srangan jamur Fomes spp, Fusarium spp atau Phytopthora spp, karena jamur tersebut dapat menyerang tanaman lada. 2. Pengelolaan TanahTanaman lada tumbuh baik pada tanah agak masam, berpasir seperti latosol, laterik podsolik dengan kisaran pH 5,5 “ 6,5. Tanaman lada akan subur dan sehat pada tanah yang banyak mengandung bahan organic, untuk itu dianjurkan melakukan pemberian pupuk kandang atau kompos. Penanaman tanaman penutup tanah (Arachis pintoi) diantara lada sangat bermanfaat untuk meminimalkan penyebaran hama dan penyakit, serta menjaga kelembaban lingkungan sekitar tanaman lada. 3. Pengelolaan AirTanaman lada tumbuh baik di daerah dengan curah hujan merat sepanjang tahun (2000 “ 3000 mm/tahun), drainase baik sehingga tidak ada air yang tergenang. Pada stadia pembibitan, pengelolaan air sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan bibit lada yang baik. Pengelolaan air sangat diperlukan untuk jembuat produk lada purih, dimana dalam proses pengelolaan pasca panen memerlukan air yang bersih dan bebas bahan berbahaya. 4. Pengelolaan Tanam Terpadu a. Bahan TanamanPenentuan varietas tanaman lada yang akan ditanam harus berdasarkan produk yang akan dihasilkan (lada putih atau lada hitam). Di Indonesia banyak sekali jenis/klon lada yang ditanam oleh petani dengan bermacam-macam kelebihan dan kekurangannya. b. Jarak tanamJarak tanam yang dianjurkan adalah 2,5 x 2,5 m (1600 tanaman/ha) atau 3,0 x 3,0 m (1100 tanaman/ha) c. Lubang tanamUkuran lubang tanama adalah 45 cm x 45 cm x 45 cm atau 60 cm x 60 cm x 60 cm (panjang x lebar x dalam). Tanah galian dibiarkan terbuka kena matahari minimal 40 hari sebelum tanam. Tanah bagian atas dicampur bahan organic dan mikroba seperti mikoriza, Trichoderma spp. Kapur dolomite dapat diberikan bila diperlukand. Tajar/JunjungPanjatan tanaman lada dianjurkan menggunakan junjung hidup seperti gamal, dadap, kapuk randu. Di mana tanaman tersebut mempunyai sifat cepat tumbuh dan dapat dipangkas secara periodik. e. PenanamanBibit yang menggunakan polibag, sebelum ditanam polibag dibuka dan dibuang, tanaman yang telah mempunyai ruas 5-7 ditanam secara miring mengarah ke tajar. Di mana 3-4 buku bagian pangkal (tanpa daun) dibenamkan di dalam tanah, sedangkan sisanya 2-3 buku (berdaun) disandarkan dan diikat pada tajar. Bibit yang baru ditanam diberi pelindung/naungan agar terlindung dari sinar matahari. Penaman tajar hidup dilakukan satu bulan sebelum dilakukan penanaman lada. f. PemeliharaanPemeliharaan meliputi pengikatan sulur, pemangkasan sulur panjat, pemangkasan sulur gantung/cacing, penyiangan, pemangkasan tajar, pemupukan dan pengendalian hama penyakit.Untuk mendapatkan tanam tumbuh rimbun dengan banyak ranting/cabang buah, maka perlu dilakukan pemangkasan sulur panjat pertama pada umur 5-8 bulan setelah tanam (mencapai 8-9 buku), pemangkasan kedua pada umur 12-14 bulan setelah tanam, pemangkasan ketiga pada umur 24 bulan (tinggi tanaman ± 2,5 m).Penyiangan dilakukan secara terbatas, hanya disekeliling tanaman lada (radius ± 60 cm). pemangkasan tajar dilakukan 3-4 kali setahun agar tanaman lada mendapat cahaya matahari yang cukup. g. Pengendalian Hama TerpaduPengendalian hama dan penyakit pada tanaman lada dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan berbagai teknologi, di mana penggunaan pestisida sebagai alternative terakhir. Pengontrolan secara teratur harus dilakukan, supaya tindakan pengendalian hama dan penyakit cepat terpantau. Pengendalian hama penyakit secara terpadu meliputi: 1. Perbaikan kultur teknisMembuat pagar hidup di sekeliling kebun, membuat saluran drainase dan parit keliling, memangkas/membuang sulur gantung, memangkas tajar, mengikat tanaman , menanam tanaman penutup tanah, meberikan bahan organic dan kimia sesuai anjuran. 2. Pengendalian hayati dan kimiaPengendalian hayati dilakukan dengan pemberian agen hayati, seperti fungi Trichoderma spp, bakteri Pasteuria fluorescent, mikoriza dan Beauvaria bassiana. Pemberian pestisida kimia bila dijumpai banyak tanaman terserang hama dan penyakit. h. Panen dan pasca panenPanen untuk lada hitam pada saat buah berwarna hijau gelap, bentuk sempurna dan tidak dapat dipecah dengan tangan (umur buah 6-7 bulan). Sedangkan untuk lada putih panen pada saat berwarna kuning kemerahan (umur buah 8-9 bulan) PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT UTAMA TANAMAN LADA Hama dan penyakit yang menyerang tanaman lada adalah: 1. Hama Penggerek Batang (Lophobaris piperis)Menyerang pada batang atau cabang, sehingga menyebabkan tanam layu hingga mati. Pengendalian dengan menggunakan musuh alami, penanaman penutup tanah, pembersihan lahan disekeliling tanaman (bobokor) dan penyemprotan dengan jamur Beauveria bassiana. Pestisida sistemik diberikan dengan bijaksana. 2. Hama penghisap bunga (Diconocoris hewetti)Menyerang pada bunga dengan menghisap, sehingga bunga hitam, rontok sebelum waktunya (gagal menjadi buah). Pengendalian dengan penyemprotan jamur Beauveria bassiana dengan konsentrasi 10 g/l. 3. Penghisap Buah (Dasynus piperis)Dikenal dengan nama kepik, kepinding, semuyung. Menyerang dengan menghisap buah, sehingga buah berwarna hitam dan kahirnya rontok.Pengendalian dengan memperbanyak musuh alami, penyemprotan jamur Beauveria bassiana, pemberian penutup tanah.penyemprotan dengan pestisida dengan cara bijaksana. 4. Penyakit Busuk Pangka Batang (BPB)Disebabkan oleh serangan jamur Phytopthora capsici. Gejala awal sulit diketahui, ketika tanaman sudah layu menujukan kalau serangan telah lanjut. Pangkal batang berwarna hitam, pada keadaan lembab mengeluarkan lender berwarna biru muda. Serangan pada daun menyebabkan gejala bercak hitam di bagian tengah atau tepi. Pengendalian dengan sanitasi kebun, pengaturan jarak tanam dan pembuatan drainase. Pemberian trichoderma diacmpur bahan organic saat tanam, penanaman tanaman kucai disekitar tanaman. Sedangakan pemberian fungisida kimia dapat diberikan pada awal musim hujan sebgai tindakan pencegahan. Tidak menanam tanaman yang menjadi inang jamur Phytopthora, seperti, cabe, terong, tomat. Untuk tanaman yang sudah terserang untuk dicabut dan dibakar agar tidak meluas penyerangannya, dan lubang bekas tanaman disisram dengan bubur bordo. 5. Penyakit KuningDisebabkan oleh keadaan yang sangat komplek yaitu adanya serangan nematode (Radpholus similis dan Meloidogyne incognita), jamur (Fusarium oxisporum), kesuburan tanah yang rendah serta kelembaban tanah. Nematode menyerang akr tanaman dan menyebabkan luka atau puru, kemudian terinfeksi jamur fusarium, sehingga tanama tidak dapat menyerap unsur hara secara maksimal, sehingga pertumbuhannya terhambat dan akhirnya mati. Pengendalian dilakukan secra terpadu dengan penanaman tanam penutup tanah, pembuatan saluran drainase, pemberian bahan organic, pemberian bakteri Pasteuria penetrans, mikoriza. Pemberian pestisida kimia diberikan secara bijaksana sesuai anjuaran. Tidak dibenarkan menanam tanaman inang seperti pisang, jahe, tomat dan cabe. 6. Penyakit kerdil/keritingPenyakit ini tidak mematikan tanaman, tetapi menghambat pertumbuhan, sehingga menjadi kerdil dan menurunkan produksi dengan gejala daun muda mengecil, tunas pucuk mongering. Penyebab penyakit ini adalah virus Pepper Yellow Mottle Virus (PYMV) dan Cucumber Mosaik Virus (CMV). Penyebaran virus dibawa oleh vektor berupa Trips, Aphis, alat pertanian dan bahan tanaman. Hindari penanaman tanaman inang seperti cabe, tomat, terong. Penyemprotan insektida dapat dilakukan untuk mengendalikan hama vektornya. Ditulis Oleh : Sugito, SPSumber Bacaan : Good Agricultural Practices (GAP) for Pepper : Pedoman Budidaya Lada Yang Baik, versi Indonesia disusun untuk petani.