SORGUM merupakan salah satu komoditas tanaman pangan penting khususnya di wilayah kering dan semi kering di Benua Asia dan Afrika. Komoditas ini mampu berdaya adaptasi luas khususnya pada lahan marjinal dengan tingkat kesuburan rendah. Budidaya tanaman sorgum juga populer di kalangan petani karena tanaman ini tidak memerlukan modal yang banyak. Sorgum digunakan sebagai bahan subtitusi pangan pokok (beras), pakan ternak dan pada dekade terakhir ini diarahkan sebagai produk bioenergi. Sorgum mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan di Indonesia karena mempunyai daya adaptasi yang luas. Potensi dan keunggulan yang dimiliki sorgum antara lain beradaptasi baik pada lahan suboptimal seperti lahan kering, lahan rawa dan lahan masam yang tersedia cukup luas di Indonesia. Seiring terjadinya krisis BBM dunia, tanaman penghasil sumber energy terbarukan kembali mendapat perhatian. Sorgum termasuk salah satu tanaman penghasil bioenergi dan mempunyai potensi untuk dibudidayakan pada lahan kering, lahan kritis dan lahan rawa yang banyak terdapat di Indonesia. Biji sorgum memiliki kandungan nutrisi dan kalori cukup serta mengandung serat pangan yang dibutuhkan tubuh (dietary fiber) untuk pencegahan penyakit jantung, obesitas, penurunan hipertensi, menjaga kadar gula darah dan pencegahan kanker usus. Beberapa senyawa fenolik sorgum diketahui memiliki aktivitas anti oksidan, anti tumor dan dapat menghambat perkembangan virus sehingga bermanfaat bagi penderita penyakit kanker, jantung dan HIV (Dicko et. al., 2006). Sorgum memiliki kandungan gluten dan indeks glikemik (IG) yang lebih rendah sehingga sangat sesuai untuk diet gizi khusus. Untuk mendapatkan hasil optimal, kedalaman perakaran yang direkomendasikan adalah > 80 cm. Jenis tekstur tanah yang dikehendaki untuk pertumbuhan optimal adalah tekstur liat geluhan, liat berpasir serta tanah lempung. Tingkat kemasaman dan salinitas tanah yang dikehendaki adalah >6-8 dan 6,8, atau tanah dengan tingkat kemasaman dan salinitas normal. Kemampuan memegang air tanah yang optimal untuk pertumbuhan tanaman sorgum adalah >150 mm/meter. Sorgum yang lebih tahan kekurangan air dibandingkan jagung, mempunyai peluang dapat dikembangkan ke daerah yang diberakan pada musim kemarau. Tanah Vertisol (Grumosol), Aluvial, Andosol, Regosol, dan Mediteran umumnya sesuai untuk sorgum. Sorgum memungkinkan ditanam pada daerah dengan tingkat kesuburan rendah sampai tinggi, asalkan solum agak dalam (lebih dari 15 cm). Varietas dan Benih Varietas sorgum sangat beragam, baik dari segi daya hasil, umur panen, warna biji, rasa dan kualitas olah bijinya. Umur panen beragam, yaitu umur genjah (kurang dari 80 hari) seperto varietas keris, umur sedang (80 – 100 hari) seperti varietas Sangkur, Mandau, Suri 3, Suri 4 Soper 6, Soper 7, Soper 9, dan umur dalam (lebih 100 hari) seperti Numbu, Kawali, Super 1 dan Super 2. Agar diperoleh produksi yang tinggi pilihlah benih yang baik/bersertifikat. Benih sorgum bersertifikat dapat diperoleh di UPBS Balai Penelitian Tanaman Serealia. Daya tumbuh benih minimal 90%, bebas dari hama penyakit dan mempunyai bentuk serta warna yang seragam Penyiapan lahan Lahan Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya atau gulma tanaman perdu yang sekiranya dapat mengganggu pengolahan tanah. Pengolahan tanah dimaksdukan untuk menggemburkan dan meratakan kesuburan tanah, meningkatkan aerasi dan mengendalikan pertumbuhan gulma. Pada lahan yang tingkat ketersediaan airnya cukup atau beririgasi, pengolahan tanah dapat dilakukan secara optimum, yaitu dibajak dua kali dan digaru satu kali. Setelah tanah diratakan, dibuat beberapa saluran drainase baik di tengah maupun di pinggir lahan. Untuk lahan yang hanya mengandalkan residu air tanah, pengolahan hanya dilakukan secara ringan dengan mencangkul tipis permukaan tanah untuk mematikan gulma atau TOT (tanpa olah tanah), biasanya menggunakan herbisida sistemik. Pengolahan tanah secara ringan atau TOT sangat efektif untuk menghambat penguapan air tanah sampai tanaman panen. Selain itu mengurangi tenaga kerja. Penanaman Pada areal yang telah disiapkan sebelumnya dibuatkan lubang tanam dengan jarak tanam disesuaikan dengan varietas yang digunakan (60 cm – 70 cm) x (10 cm - 20 cm), ketersediaan air, dan tingkat kesuburan lahan. Pada lahan yang kurang subur dan kandungan air tanah rendah sebaiknya di gunakan jarak tanam lebih lebar atau populasi tanam dikurangi dari populasi baku. Untuk mengurangi penguapan air tanah, jarak tanam antar baris dapat dipersempit tetapi jarak dalam baris diperlebar. Penanaman dapat dilakukan dengan cara ditugal seperti halnya menanam jagung. Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan alat tugal kayu dengan mengikuti arah ajir yang telah dipasang sesuai jarak tanam yang akan digunakan. Kedalaman lubang tanam sebaiknya tidak lebih dari 5 cm. Setiap lubang tanam diisi sekitar 3-4 benih, kemudian ditutup dengan tanah ringan atau pupuk organik. Penutupan lubang tanam dengan bongkahan tanah atau secara padat dan berat menyebabkan benih sulit berkecambah dan menembus permukaan tanah. Penutupan lubang tanam dengan pupuk organik atau abu atau tanah ringan akan memudahkan benih tumbuh, dan sekitar 5 hari setelah tanam biasanya benih sudah tumbuh. Pada umur 2-3 minggu setelah tanam dapat dilakukan penjarangan tanaman dengan meningggalkan 2 tanaman/rumpun. Pemupukan Manajemen pengelolaan lahan merupakan syarat mutlak yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat hasil yang optimal. Diantara input produksi yang ada, pupuk merupakan salah satu yang terpenting dalam hubungannya dengan pencapaian target hasil. Hara yang cukup diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, dimulai dari fase vegetative sampai dengan pengisian biji. Kebutuhan pupuk sorgum adalah urea 250 kg/ha, dan ponska 300 kg/ha. Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pada saat tanaman berumur 7 - 10 hari setelah tanam (hst) dengan dosis 300 kg ponska/ha. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 30 – 35 hst dengan dosis 250 kg urea/ha. Pupuk diberikan dalam lubang/larikan + 15 cm di samping tanaman. Pemeliharaan Kegiatan pemeliharaan yang perlu dilakukan untuk pertanaman sorgum agar dapat tumbuh dan menghasilkan, antara lain: Pemberian air, adalah menambah air jika tanaman kekurangan air, dan jika air cukup maka penambahan air tidak perlu dilakukan. Sebaliknya, jika kelebihan air justru harus segera dibuang dengan cara membuat saluran drainase. Sorgum termasuk tanaman yang tidak memerlukan air dalam jumlah yang banyak, tanaman ini tahan terhadap kekeringan, namun pada periode tertentu tanaman memerlukan air yang cukup yaitu pada saat tanaman berdaun empat (pertumbuhan awal) dan saat periode pengisian biji sampai biji mulai mengeras. Penyiangan gulma, kompetisi tanaman sorgum dengan gulma dapat menurunkan hasil dan kualitas biji karena tercampur biji rumput, terutama pertanaman awal musim hujan. Bahkan keberadaan gulma pada saat pertumbuhan awal tanaman sorgum dapat menurunkan hasil secara nyata. Pada saat awal pertumbuhan, tanaman sorgum lambat pertumbuhannya sedangkan gulma lebih cepat berkompetisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil biji turun sebesar 10% jika penyiangan gulma tidak dilakukan sampai tanaman sorgum berdaun 3 helai dan kompetisi gulma yang berat akan dapat menurunkan hasil lebih 20% jika tidak dilakukan penyiangan gulma selama 2 minggu pertama pertumbuhan. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan sabit atau cangkul. Penyiangan biasanya dilakukan dua kali selama pertumbuhan tanaman, dan untuk penyiangan yang ke dua saatnya tergantung keadaan gulma di lapangan. Pembumbunan, dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke 2 (3-4 minggu setelah tanam) atau sebelumnya. Pembumbunan dilakukan dengan cara menggemburkan tanah di sekitar batang tanaman, kemudian menimbunkan tanah pada pangkal batang dengan tujuan untuk merangsang tumbuhnya akar dari ruas-ruas batang dan memperkokoh kedudukan tanaman agar tanaman tidak mudah rebah Pengendalian Hama dan Penyakit Hama Utama yang banyak menyerang tanaman sorgum adalah lalat bibit Atherigona soccata, ulat tanah, burung emprit, dan hama kumbang bubuk Sitophilus zeamais.. Ulat tanah dan lalat bibit dikendalikan dengan insektisida 20kg/ha Furadan 3G saat tanam dan pada saat umur tanaman 21 hst. Pengendalian hama burung dilakukan dengan menggunakan sungkup kertas atau sungkup plastik berlubang banyak untuk aerasi, pada malai muda hingga panen, pemasangan jaring/paranet pada waktu tanaman terbentuk malai muda hingga panen. Hama kumbang bubuk dapat dikendalikan secara kimiawi maupun menggunakan bahan nabati. Secara kimia dapat dilakukan dengan teknik fumigasi dengan menggunakan fumigan seperti phospine (PH3), dan Methyl Bromida (CH3Br) sedangkan secara nabati dapat dilakukan dengan sistim pengasapan. Salah satu tanaman yang bersifat insektisida nabati adalah lada hitam (Piper nigrum) yang mengandung senyawa aktif antara lain saponin, flavonoida, minyak atsiri, kavisin, piperin, piperline, piperolaine, piperanine, piperonal. Penyakit bercak daun dikendalikan dengan memangkas daun yang terinfeksi atau dengan rotasi tanaman. Bercak daun dapat juga dikendalikan dengan fungisida Dithane M45. PANEN DAN PASCAPANEN Tanaman sorgum dapat dipanen pada umur 3-4 bulan (100-105 hst) atau 80% dari biji sudah mengeras serta malai telah menguning. Umur panen bervariasi dan tergantung varietasnya, dilakukan dengan cara memangkas tangkai di bawah malai dengan menggunakan sabit. Selanjutnya malai dijemur kemudian dirontok dengan menggunakan alat perontok khusus sorgum. Selanjutnya sorgum disosoh untuk menghilangkan kandungan tannin pada biji. Sebelum disosoh sorgum dikeringkan sampai kadar air 10-11%. Penyosohan diperlukan karena biji sorgum dilapisi oleh kulit ari yang keras dan lengket dengan karbohidrat biji yang menimbulkan rasa sepat apabila dikonsumsi. Rasa sepat ini terjadi karena tingginya kandungan zat tanin pada biji. Penyosohan dilakukan secara manual dengan alu atau dengan mesin penyosoh sorgum Balitsereal. Setelah disosoh, biji sorgum dapat diolah menjadi nasi sorgum, cake dan cookies Dirangkum oleh : Religius Heryanto, S.ST (Penyuluh BPSIP Sulawesi Barat) Sumber : balitsereal.litbang.pertanian.go.id