Loading...

TEKNOLOGI HEMAT AIR MENDUKUNG CSA

TEKNOLOGI HEMAT AIR MENDUKUNG CSA
Perubahan iklim global yang ekstrim belakangan ini mempengaruhi kegiatan budidaya, teknologi dan hasil pertanian dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan pertanian dalam menyediakan pangan bagi 267 juta jiwa dan meningkatkan pendapatan petani. Dampak negatif perubahan iklim global di antaranya: (1) terjadinya degradasi sumber daya lahan dan air, (2) terjadinya kerusakan pada infrastrukur pertanian/irigasi, (3) timbulnya bencana banjir dan kekeringan dan (4) meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Dampak perubahan iklim global tersebut berpotensi mengancam penurunan produktivitas, produksi, mutu hasil pertanian, serta menurunnya efesiensi dan efektifitas distribusi pangan, yang bermuara kepada rentannya ketahanan pangan di suatu wilayah dan pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap kehidupan sosial dan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat. Pemerintah menerapkan strategi melalui pertanian cerdas iklim (CSA). Penerapan CSA sangat penting karena pertanian dihadapkan dengan tantangan besar, yakni perubahan iklim. Implementasi teknologi CSA dilakukan melalui teknologi pengairan hemat air, penggunaan pestisida nabati, varietas padi unggul rendah emisi, jajar legowo, pemupukan berimbang dan penggunaan bahan organic. Melalui CSA diharapkan terjadinya peningkatan produktivitas, peningkatan IP, serta peningkatan pendapatan disertai penurunan emisi gas rumah kaca. Teknologi pengairan hemat air merupakan salah satu teknologi CSA yang dilakukan dengan cara: (1) mengatur jumlah dan waktu irigasi antara lain melalui pengelolaan dan penggunaan lahan yang tepat, dan (2) memaksimalkan pemanfaatan air dengan menerapkan teknologi hemat air yang sesuai dengan kondisi wilayah setempat. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya air merupakan penerapan Climate Smart Agriculture, diantaranya irigasi intermittent maupun ailternate wetting and drying. Dalam implementasinya Climate Smart Agriculture memerlukan system irigasi yang smart dan tepat agar irigasi dapat efisien dan terus menerus sepanjang tahun (smart irrigation) dengan prinsip irigasi hemat air. Teknik irigasi hemat air yang diterapkan harus didukung oleh sumber air yang tersedia sepanjang tahun. Pada dasarnya teknologi irigasi intermittent merupakan salah satu pendekatan CSA pada pengembangan strategi pertanian untuk mengamankan ketahanan pangan berkelanjutan dalam menghadapi kondisi perubahan iklim. Pengairan berselang (intermittent irrigation) adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian. Kondisi seperti ini ditujukan untuk menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi menjadi lebih luas. Sistem Intermitten memberi kesempatan kepada akar tanaman untuk mendapatkan udara sehingga dapat berkembang lebih dalam. Pengairan berselang mencegah timbulnya keracunan besi dan penimbunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkembangan akar serta dapat mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat. Teknik ini dapat memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah dan memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, dan mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus. Selain itu Intermitten juga dapat mengurangi kerebahan dan mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah) serta dapat menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen. Pengairan Intermitten memiliki prinsip memonitor kedalaman air dengan menggunakan alat bantu berupa pipa. Setelah lahan sawah dialiri, kedalaman air akan menurun secara gradual. Ketika kedalaman air mencapai 15 cm di bawah permukaan tanah, lahan sawah kembali diairi sampai ketinggian sekitar 5 cm. Pada waktu tanaman padi berbunga, tinggi genangan air dipertahankan 5 cm untuk menghindari stress air yang berpotensi menurunkan hasil. Penurunan tingkat genangan menjadi 5-7 cm selain dapat menurunkan tingkat kebutuhan air irigasi, juga dapat meningkatkan hasil tanaman. Sistem penggenangan juga berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan air. Genangan seperti yang dilakukan petani pada umumnya (genangan terus menerus 10-15 cm) dapat menyebabkan tingginya kehilangan air yang didalamnya juga terlarut unsur hara yang bersifas mobile. Batas kedalaman air 15 cm ini dikenal dengan Pengairan Basah Kering (PBK) aman yang bermakna bahwa kedalaman air sampai batas tersebut tidak akan menyebabkan penurunan hasil yang signifikan karena akar tanaman padi masih mampu menyerap air dari zona perakaran. Setelah itu, pada fase pengisian dan pemasakan, PBK dapat dilakukan kembali. Penerapan teknologi hemat air melalui sistem irigasi intermittent khususnya pada komoditi padi dilakukan dengan cara: Melakukan pertanaman bibit padi menggunakan air macak-macak. Irigasi macak-macak adalah teknik pemberian air yang bertujuan untuk membasahi lahan hingga jenuh tanpa tergenang hingga mencapai ketinggian tertentu. Teknik irigasi ini efisien dalam penggunaan air dibandingkan dengan pengairan secara terus menerus. Beberapa penelitian menunjukkan, hasil tanaman padi yang mendapati irigasi macak-macak tidak berbeda nyata dengan yang mendapat genangan tinggi secara terus menerus. Efisiensi pengguanaan air dengan macak-macak 2-3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan penggenangan air secara terus menerus, karena tanaman padi tidak memerlukan genangan air terus menerus. Mengairi sawah secara berangsur dengan kedalaman 2-5 cm selama kurang lebih 10 hari. Penurunan genangan selain mengurangi penggunaan air irigasi, juga dapat meningkatkan hasil tanaman. Membiarkan sawah mengering selama 5 - 6 hari, kondisi lahan sawah tidak selalu digenangi namun juga dibiarkan kering selama beberapa hari Setelah terlihat permukaan tanah retak, sawah kembali diberikan air setinggi 5 cm Membiarkan sawah kering kembali tanpa diari selama 5 - 6 hari , lalu airi kembali 5 cm Mengulang hal di atas hingga fase stadia pembungaan Selanjutnya pada fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen diairi setinggi 5 cm, kemudian keringkan Penulis: Sri Mulyani (PP BPPSDMP Kementan) Sumber: Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. 2022. Pedoman Pelaksanaan Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) Tahun 2022, Jakarta Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. 2022. Juknis Penerapan Teknologi CSA Tahun 2022. Jakarta Abas,A.I.dan A.Abdurachman.1985. Pengaruh Pengelolaan Air dan Pengolahan Tanah Terhadap Efisiensi Penggunaan Air Sawah di Cihea, Jawa barat.