Loading...

TEKNOLOGI JARWO SUPER PENDONGKRAK PRODUKTIVITAS PADI

TEKNOLOGI JARWO SUPER PENDONGKRAK PRODUKTIVITAS PADI
PENDAHULUAN Pengembangan sektor tanaman pangan merupakan salah satu strategi kunci dalam memacu pertumbuhan ekonomi pada masa yang akan datang. Integrasi dukungan kegiatan antar sektor dan antar wilayah dalam pengembangan usaha pertanian harus dilakukan dalam rangka memacu peningkatan produksi khususnya tanaman padi. Upaya Khusus (UPSUS) peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya padi dengan perluasan areal tanam dan perbaikan jaringan irigasi yang telah dan masih terus dilakukan, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh sebab itu harus ada terobosan teknologi agar terjadi peningkatan produksi sesuai dengan yang dharapkan. Salah satunya dengan peningkatan produktivitas melalui teknologi Jajar Legowo Super. Teknologi Jajar Legowo Super merupakan hasil inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian yang mengimplementasikan secara terpadu Teknologi Budidaya Padi Berbasis Cara Tanam Jajar Legowo. Jarwo itu sendiri hanya bertumpu kepada pengaturan jarak tanam padi, sehingga seluruh tanaman menjadi tanaman pinggir. Selain itu, penerapan jarwo meningkatkan populasi tanaman. Inilah yang kemudian berefek terhadap meningkatkan produksi sekitar 30%. KOMPONEN TEKNOLOGI JARWO SUPER 1. Varietas Unggul Baru (VUB) Potensi Hasil Tinggi Penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) potensi hasil tinggi. Saat pelaksanaan Dem-area seluas 50 ha di Indramayu menggunakan varietas Inpari 30 Ciherang Sub-1 dengan produktiftas sebanyak 13,9 ton/ha, varietas Inpari 32 HDB sebesar 14,4 ton/ha dan varietas Inpari 33 sebesar 12,4 ton/ha. "Padahal rata-rata produktivitas pertanaman petani di luar dem-area dengan varietas Ciherang hanya 7,0 ton/ha," ujarnya. 2. Biodekomposer secara insitu sebelum pengolahan tanah Menggunakan biodekomposer secara insitu sebelum pengolahan tanah. Biodekomposer merupakan bahan yang mengandung beberapa jenis mikroba perombak bahan organik seperti lignoselulosa. "Biodekomposer mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari dua bulan menjadi 1-2 minggu," katanya. Hasil aplikasi Biodekomposer mempercepat perombakan jerami dan mengubah residu organik menjadi bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan NPK, sehingga menekan biaya pemupukan, dan menekan penyakit tular tanah. 3. Pupuk hayati dan Pemupukan Berimbang. Menggunakan pupuk hayati dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Pupuk hayati adalah pupuk berbasis gabungan mikroba mikroba non patogenik yang dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat Nitrogen dan pelarut Fosfat yang berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Aktivitas enzimatik dan fitohormon berpengaruh positif terhadap pengambilan hara makro dan mikro tanah, memacu pertumbuhan, pembungaan, pemasakan buah, pematahan dormansi, meningkatkan vigor dan viabilitas benih. Dampaknya mampu meningkatkan efisiensi pemupukan NPK anorganik dan produktivitas tanaman. 4. Pestisida nabati dan Pestisida Anorganik. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali. Pestisida nabati berbahan aktif senyawa eugenol sitronelol dan geraniol. Senyawa eugenol efektif mengendalikan hama tanaman padi seperti wereng batang cokelat. Senyawa sitronelol dan geraniol dapat mengusir kehadiran serangga di pertanaman. Kelebihan pestisida nabati memiliki daya racun rendah sehingga pemakaiannya aman bagi manusia dan hewan ternak. Selain itu dapat menjaga kelestarian serangga berguna, serangga penyerbuk dan musuh alami hama sekaligus dapat berperan sebagai pupuk organik. 5. Penggunaan Alsintan seperti transplanter, combine harvester dll Penggunaan Alat dan Mesin Pertanian (alsintan), khususnya transplanter dan combine harvester. Transplanter merupakan teknologi pertanian yang mempermudah dan mempercepat proses penanaman padi dilapangan. Sedangkan combine harvester merupakan mesin pemanen padi. Penggunaan combine harvester dapat mengurangi kehilangan hasil saat panen dilakukan. PENUTUP Jika semua komponen teknologi Jarwo Super diimplementasikan secara full paket, maka petani bisa mendapatkan produksi sekitar 10 ton GKG/ha/musim. Ada delta penambahan produksi sebesar 4 ton dibandingkan rata-rata produksi Jajar Legowo di sawah irigasi sebesar 6 ton GKG/ha/ musim. Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung) Sumber Bacaan : 1. Anonim. 2013. Pedoman Teknis GP-GPTT Padi 2015. Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian.2. http://jatim.litbang.pertanian.go.id/ Jarwo Super Berpotensi Tingkatkan Produksi 60 “ 90 %.3. http://tabloidsinartani.com. Inilah Beda Jarwo biasa dengan Jarwo Super. Sumber Foto : Dokumentasi Feriadi (2016)