Loading...

TEKNOLOGI LADA HITAM LAMPUNG

TEKNOLOGI LADA HITAM LAMPUNG
Lada merupakan komoditas unggulan yang mempunyai nilai ekspor sebagai sumber devisa yang terus dipertahankan dan dikenal dengan nama "Lampung black pepper". Namun produktivitas rata-rata tanaman lada hitam antara 500-700 kilogram per hektar. Rendahnya produktivitas lada hitam bila disebabkan beberapa faktor antara lain petani belum menerapkan pengelolaan tanaman terpadu (PTT), tanaman yang sudah tua, faktor iklim, serangan hama dan penyakit, dan kurangnya pengetahuan dalam budidaya tanaman lada. Peneliti BPTP Lampung, Suprapto menyampailkan hasil penelitian dengan menerapkan PTT lada di Lampung mampu meningkatkan produktivitas lada dari 150 kg/ha pada tahun pertama meningkat menjadi 480 kg/ha, pada tahun kedua meningkat lagi menjadi 860 kg/ha dan pada tahun ketiga produktivitasnya meningkat lagi menjadi 1575 kg/ha. Komponen teknologi PTT lada terdiri atas : (1) varietas dan bahan tanam, (2) pemangkasan tajar, (3) pemupukan organik dan anorganik, (4) pengendalian gulma dibabat atau tanam cover crops, (5) pengendalian hama dan penyakit, (6) penggunaan dan pemeliharaan tajar, (7) konservasi kebun dan bebokor, (8) pengairan/drainase, (9) pemagaran kebun, (10) panen dan pascapanen Varietas dan Bahan TanamVarietas lada unggul spesifik lokasi di Lampung adalah varietas lada natar 1. Varietas ini mempunyai keunggulan antara lain produksi tinggi (4 ton/ha), toleran terhadap kelebihan dan kekurangan air, toleran terhadap serangann hama penggerek batang dan penyakit busuk pangkal batang (BPB). Bibit berasal dari sulur panjat. PenanamanBibit lada siap tanam pada umur 6 bulan, tanam pada lubang dengan ukuran lebar 40 cm x 40 cm dalam dan 60 cm panjang. Sebelum bibit ditanam, lubang tanam diberi pupuk organik yang dicampur dengan tanah bagian topsoil dan telah dipisahkan saat membuat lubang tanam. PemupukanPemberian pupuk organik pada lubang tanam atau ditabur di sekitar tanaman lada setelah tanaman lada dibebokor sebatas kanopi, dengan dosis sekitar 5-15 kg/pohon/tahun. Pemupukan anorganik (NPK Mg) untuk tanaman produktif sebanyak 1,6 kg/pohon/tahun. Sedangkan untuk tanaman belum menghasilkan dosis pupuk NPK Mg berkisar 0,2-0,4 kg/pohon/tahun. Pemberian pupuk dilakukan 2 kali/tahun dengan cara ditabur di bidang kanopi sebelum dilakukan pemupukan organik, kemudian ditutup dengan pupuk organik. Waktu pemberian pupuk pertama dilakukan pada awal musim hujan dan pemupukan kedua dilakukan 5-7 bulan setelah pemberian pupuk pertama. Pengendalian GulmaGulma dikendalikan dengan cara dibabat, atau ditanam cover crop Arachis pintoi, dan tanaman lada di siang terbatas dengan cara dibebokor, dengan jarak kurang lebih 60 cm di bawah kanopi tanaman lada. Pengendalian Hama dan PenyakitPengendalian hama dan penyakit utama dilakukan secara hayati dan mekanis. Pengendalian hama utama penggerek batang secara hayati menggunakan agensia hayati Trichoderma sp, yang dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk organik. Pengendalian secara mekanis dilakukan dengan membuang tanaman mati baik yang terserang penggerek batang maupun penyakit busuk pangkal batang. Penggunaan dan pemeliharaan TajarTanaman yang digunakan sebagai tajar adalah Glyrisidia atau Erythrina sp (dadap pucuk merah), yang dipelihara dengan cara dipangkas minimal 2 kali/tahun, selama Pmusim hujan. Selain penanaman tajar, kebun lada perlu dipagar dengan menanam rumput gajah, agar kebun tidak digunakan untuk lalu lintas masyarakat. Sisa pangkasan tajar dan pagar dapat dimanfaatkan untuk mulsa (sumber bahan organik) juga dapat dijadikan sumber hijauan pakan ternak. PengairanUntuk menghindari kebun lada tergenang air di musim hujan, perlu dibuat saluran drainase disekeliling tanaman dan saluran ini dihubungkan dengan parit yang dapat mengalirkan air keluar areal tanaman. Panen dan PascapanenPanen dilakukan pada umur 7-8 bulan, yang ditandai buah berwarna hijau tua atau dalam satu tandan buah terdapat buah yang berwarna merah (23%) dan warna hijau tua (57%). Pemanenan dilakukan dengan tangga dan keranjang bambu untuk tempat mengumpulkan buah yang dipetik. Setelah dipanen, buah lada disortir untuk memisahkan antara buah yang baik dan mulus dengan buah yang busuk lalu diperam 1 malam, lalu buah lada yang masih bertandan dirontok. Buah dan cangkang lada yang telah dirontok, secara terpisah dijemur sampai kering. Penjemuran dapat dilakukan di bawah sinar matahari 2-3 hari sampai kadar air mencapai 15% dengan menggunakan terpal/tikar, ketebalan tumpukan 1-3 butir lada atau 10 cm. Setelah buah lada kering lakukan sortasi kembali dengan menggunakan blower untuk memisahkan buah yang ringan, buah yang bernas dan kotoran. Disusun : Ely Novrianty, Gohan Octora Manurung, dan Suryani (BPTP Lampung) Sumber : Suprapto. 2010. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Lada di Lampung. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung.