Loading...

Teknologi Pemupukan Padi

Teknologi Pemupukan Padi

TEKNOLOGI PTEKNOLOGI PEMUPUKAN PADA TANAMAN PADI SAWAH *)**)

 Mengapa Pemupukan Padi yang Tepat Sangat Penting?

 Padi merupakan tanaman pangan strategis yang membutuhkan program nutrisi optimal untuk menghasilkan gabah berkualitas tinggi. Pemupukan yang tidak tepat dapat menyebabkan:

  • Hasil panen rendah di bawah 5 ton GKP/hektar
  • Gabah kosong (hampa) yang tinggi >15%
  • Kualitas beras buruk dengan kadar amilosa rendah
  • Tanaman mudah rebah dan terserang penyakit

 Fakta penting: Padi dengan pemupukan optimal dapat menghasilkan 7-10 ton GKP (Gabah Kering Panen)/hektar dengan gabah isi >85%, sedangkan padi tanpa pemupukan yang tepat hanya menghasilkan 3-5 ton/hektar.

 Karakteristik Pertumbuhan dan Kebutuhan Nutrisi Padi

Fase Pertumbuhan Padi dan Kebutuhan Hara

Padi memiliki 4 fase pertumbuhan utama yang memerlukan strategi pemupukan berbeda:

  1. Fase Vegetatif Awal (0-30 HST): Pembentukan anakan dan pertumbuhan daun
  2. Fase Vegetatif Aktif (30-45 HST): Pembentukan anakan maksimal dan penguatan batang
  3. Fase Generatif (45-75 HST): Pembungaan, pembentukan gabah, dan pengisian bulir
  4. Fase Pemasakan (75-120 HST): Pematangan gabah dan persiapan panen

Kebutuhan Hara Makro Padi per Hektar

  • Nitrogen (N): 120-180 kg untuk pertumbuhan vegetatif dan protein gabah
  • Fosfor (P2O5): 60-90 kg untuk pengembangan akar dan energi metabolisme
  • Kalium (K2O): 80-120 kg untuk kualitas gabah dan ketahanan rebah

 Pola serapan hara padi:

  • 60% nitrogen diserap pada fase vegetatif (0-45 HST)
  • 70% fosfor diserap pada fase awal pertumbuhan
  • 50% kalium diserap pada fase pengisian gabah

 Tahap 1: Persiapan Tanah – Fondasi Padi Produktif

Pengolahan Tanah Sawah yang Optimal

Pengolahan tanah pada sawah bertujuan untuk mengubah sifat fisik tanah agar lapisan yang semula keras menjadi berlumpur dengan tekstur yang ideal. Manfaat pengolahan tanah meliputi:

 Tujuan pengolahan tanah sawah:

  •  Melumpurkan tanah untuk kondisi anaerob yang disukai padi
  •  Membunuh gulma yang kemudian membusuk menjadi humus alami
  •  Memperbaiki aerasi tanah untuk pertumbuhan akar optimal
  •  Menciptakan lapisan jenuh air untuk menghemat kebutuhan irigasi
  •  Meratakan permukaan untuk distribusi air dan pupuk yang merata

 Teknik pengolahan tanah:

  • Pembajakan pertama: Kedalaman 20-25 cm untuk membalik tanah
  • Penggenangan: 7-10 hari untuk pelumpuran alami
  • Pembajakan kedua: Untuk mencampur dan melumpurkan tanah
  • Perataan: Menggunakan papan atau laser land leveling

 Perbaikan Infrastruktur Sawah

Pengelolaan pematang dan irigasi:

  • Perbaikan pematang (galengan) untuk mencegah kebocoran air
  • Pengaturan sistem irigasi yang efisien dan tidak boros
  • Pembuatan saluran drainase untuk pengeluran air saat diperlukan
  • Maintenance selokan untuk kelancaran distribusi air

 Aplikasi Pupuk Dolomit untuk pH Tanah Optimal

Pupuk dolomit memastikan kandungan unsur hara terjamin dan pelepasan nutrisi yang konsisten untuk tanaman padi.

Keunggulan Pupuk Dolomit

  •  Teknologi compaction untuk kualitas dan keseragaman terjamin
  •  Menetralkan keasaman tanah secara bertahap dan tahan lama
  •  Memperbaiki struktur tanah untuk aerasi dan drainase optimal
  •  Membantu penyerapan unsur hara dengan meningkatkan KTK tanah
  •  Meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi
  •  Meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit

 Manfaat spesifik untuk padi:

  • Optimalisasi pH tanah 5,5-6,5 untuk penyerapan hara maksimal
  • Penyediaan kalsium untuk penguatan dinding sel batang
  • Suplai magnesium untuk pembentukan klorofil dan fotosintesis
  • Reduksi toksisitas aluminium pada tanah masam
  • Peningkatan ketersediaan fosfor dalam tanah

 Cara aplikasi dolomit:

  • Dosis: 500-750 kg per hektar
  • Waktu: 2-3 minggu sebelum tanam, saat pengolahan tanah
  • Metode: Tabur merata kemudian bajak dan campur dengan tanah
  • Kedalaman: Tercampur hingga lapisan olah 15-20 cm

 Tahap 2: Pemupukan Pertama – Fase Vegetatif Aktif (30 HST)

Stimulasi Anakan dengan NPK 12-12-17

Pada umur sekitar 30 hari setelah tanam, ketika tinggi tanaman padi mencapai sekitar 80 cm, aplikasikan NPK 12-12-17 untuk fase kritis pembentukan anakan.

Kondisi tanaman umur 30 HST:

  • Tinggi tanaman: 70-90 cm
  • Jumlah anakan: 8-12 batang per rumpun
  • Fase pembentukan: Anakan aktif (tillering stage)
  • Kebutuhan nutrisi: Tinggi untuk pertumbuhan vegetatif

Nitrogen (12%) – Pembentukan Anakan:

  • Merangsang pembentukan tunas dan anakan padi secara aktif
  • Membuat rumpun menjadi banyak dan sehat dengan vigor tinggi
  • Membantu proses pembentukan protein dan asam amino esensial
  • Meningkatkan kekuatan tanaman padi untuk fase selanjutnya

Fosfor (12%) – Energi Metabolisme:

  • Menyediakan energi untuk proses pembentukan anakan
  • Memperkuat sistem perakaran untuk serapan hara optimal
  • Mendukung transfer energi dalam bentuk ATP
  • Membantu pembentukan struktur seluler yang kuat

Kalium (17%) – Kualitas Pertumbuhan:

  • Membentuk tunas dan anakan secara serempak dan seragam
  • Membantu pembentukan klorofil (zat hijau daun) untuk fotosintesis
  • Meningkatkan ketahanan terhadap stress lingkungan
  • Regulasi keseimbangan air dalam jaringan tanaman

Teknik aplikasi 30 HST:

  • Dosis: 250-300 kg per hektar
  • Metode: Tabur langsung di petakan sawah dalam kondisi macak-macak
  • Timing: Pagi hari (06.00-09.00) saat cuaca cerah
  • Kondisi air: Ketinggian air 3-5 cm untuk pelarutan optimal
  • Distribusi: Tabur merata untuk hasil yang seragam

 Hasil yang diharapkan: Tanaman padi dengan 15-25 anakan per rumpun, daun hijau segar, dan pertumbuhan yang vigor menuju fase generatif.

 Tahap 3: Pemupukan Kedua – Fase Generatif (45 HST)

Optimalisasi Pengisian Gabah dengan NPK 13-6-27

Pada umur sekitar 45 HST, ketika padi mulai menguning (tanda awal memasuki fase generatif), aplikasikan NPK 13-6-27 untuk mengoptimalkan pembentukan dan pengisian gabah.

Kondisi tanaman umur 45 HST:

  • Fase bunting: Malai mulai terbentuk dalam pelepah daun bendera
  • Warna daun: Mulai menguning sebagai tanda transisi generatif
  • Anakan: Mencapai jumlah maksimal dan mulai diferensiasi produktif
  • Kebutuhan: Fokus pada kualitas dan kuantitas gabah

Nitrogen (13%) – Maintenance Fotosintesis:

  • Mempertahankan aktivitas fotosintesis daun untuk energi
  • Mendukung translokasi hasil fotosintesis ke malai
  • Pembentukan protein dalam endosperm gabah
  • Menjaga stay green untuk pengisian gabah optimal

Fosfor Rendah (6%) – Efisiensi Energi:

  • Rasio N:P rendah untuk trigger fase generatif
  • Transfer energi efisien untuk pembentukan gabah
  • Kematangan fisiologis yang seragam
  • Kualitas gabah dengan kadar protein optimal

Kalium Tinggi (27%) – Kunci Kualitas Gabah:

  • Pembentukan bulir padi yang besar, padat, dan berisi penuh
  • Kandungan kalium tinggi meningkatkan kualitas gabah secara signifikan
  • Meningkatkan ketahanan tanaman padi terhadap hama dan penyakit
  • Meningkatkan sistem transportasi hasil fotosintesis ke gabah
  • Meningkatkan hasil dan kualitas panen secara keseluruhan

Manfaat tambahan kalium tinggi:

  • Mengurangi gabah hampa hingga <10%
  • Meningkatkan bobot 1000 butir gabah
  • Memperbaiki tekstur dan rasa beras
  • Ketahanan rebah yang lebih baik

Teknik aplikasi 45 HST:

  • Dosis: 200-250 kg per hektar
  • Metode: Tabur dalam kondisi air macak-macak
  • Timing: Sebelum pembungaan penuh (saat bunting)
  • Kondisi: Air sawah 2-3 cm untuk pelarutan sempurna
  • Perhatian: Hindari aplikasi saat hujan deras

Hasil yang diharapkan: Malai padi yang panjang (20-25 cm), gabah berisi penuh >85%, dan bobot gabah per malai optimal (2-3 gram).

 Tahap 4: Menjelang Panen – Maintenance dan Persiapan (75-120 HST)

Pemeliharaan Optimal hingga Panen

Pada fase menjelang panen, fokus utama adalah mempertahankan kesehatan tanaman hingga gabah mencapai kematangan fisiologis optimal.

Strategi pemeliharaan pra-panen:

  • Pengairan tepat: Pengaturan air sawah untuk kematangan seragam
  • Pengendalian hama: Monitoring dan aplikasi pestisida sesuai kebutuhan
  • Maintenance nutrisi: Pemupukan tambahan umumnya tidak diperlukan
  • Persiapan panen: Evaluasi tingkat kematangan gabah

Manajemen air menjelang panen:

  • 45-60 HST: Air macak-macak (2-3 cm) untuk pengisian gabah
  • 60-75 HST: Air dangkal (1-2 cm) untuk pematangan awal
  • 75-90 HST: Intermittent drying untuk konsentrasi nutrisi
  • 90-120 HST: Pengeringan bertahap untuk kematangan penuh

Pengendalian hama dan penyakit:

  • Wereng coklat: Monitoring populasi dan aplikasi insektisida
  • Penggerek batang: Pengendalian saat fase bunting
  • Blast padi: Fungisida preventif pada kondisi lembab tinggi
  • Bacterial leaf blight: Sanitasi dan varietas tahan

Indikator kesiapan panen:

  • Gabah menguning 80-85% dari total gabah
  • Kadar air gabah 20-25%
  • Malai menunduk karena bobot gabah
  • Daun bendera mulai mengering

 Program Pemupukan Padi Terintegrasi

Jadwal Pemupukan Berdasarkan Varietas

Padi Varietas Genjah (95-105 hari):

  • Persiapan: Dolomit 500 kg/ha
  • 30 HST: NPK 12-12-17 sebanyak 250 kg/ha
  • 40 HST: NPK 13-6-27 sebanyak 200 kg/ha

Padi Varietas Sedang (110-120 hari):

  • Persiapan: Dolomit 600 kg/ha
  • 30 HST: NPK 12-12-17 sebanyak 300 kg/ha
  • 45 HST: NPK 13-6-27 sebanyak 250 kg/ha

 Padi Varietas Dalam (125-140 hari):

  • Persiapan: Dolomit 750 kg/ha
  • 30 HST: NPK 12-12-17 sebanyak 350 kg/ha
  • 45 HST: NPK 13-6-27 sebanyak 300 kg/ha
  • Tambahan 65 HST: NPK 13-6-27 sebanyak 150 kg/ha

Pemupukan Organik Pelengkap

Pupuk Organik untuk Keberlanjutan:

  • Jerami padi: 2-3 ton/ha dibenamkan saat pengolahan tanah
  • Pupuk kandang: 1-2 ton/ha untuk memperbaiki struktur tanah
  • Kompos: 1 ton/ha untuk meningkatkan bahan organik
  • Pupuk hayati: Biofertilizer untuk efisiensi serapan hara

Manfaat jangka panjang:

  • Perbaikan kesuburan tanah secara berkelanjutan
  • Peningkatan kapasitas tukar kation (KTK)
  • Struktur tanah yang lebih baik untuk musim tanam berikutnya
  • Efisiensi pupuk kimia hingga 20%

 

*) Disadur dari berbagai sumber

**) Tim Penulis BPP Sukaresmi Garut