Pada tanaman cabai rawit, seringkali ditemukan buah yang rontok dan membusuk, baik sebelum masak maupun yang sudah masak, kadang kala buah berwarna cokelat kehitaman atau agak menguning dan pada bagian tertentu dari kulit buah cabai ditemukan bintik hitam yang berukuran sangat kecil. Hal ini menandakan bahwa buah cabai tersebut telah terserang oleh hama lalat buah. Teknologi Pengendalian Hama Lalat Buah Teknologi pengendalian hama lalat buah yang ramah lingkungan ialah pengendalian secara kultur teknis, pengendalian secara fisik/mekanik, pengendalian secara biologi, dan pengendalian secara kimiawi (dapat digunakan sebagai alternatif terakhir). 1. Secara kultur teknis a. Sanitasi lahan. Sanitasi lahan bertujuan untuk memutuskan daur hidup lalat buah, sehingga perkembangan lalat buah dapat ditekan. Sanitasi dilakukan dengan cara mengumpulkan buah yang jatuh atau busuk kemudian dimusnahkan dan dibakar atau dibenamkan di dalam tanah dengan cara membuat lobang berukuran 1 x 0,5 m atau 1 x 1 m sampah/serasah di sekitar tanaman juga harus dikumpulkan dan dibakar atau dipendam dalam tanah. Pastikan ke dalam tanah tidak memungkinkan larva dapat berkembang menjadi pupa. Pupa yang ada dalam tanah dapat dimusnahkan dengan cara membalikkan tanah di sekitar tanaman. b. Gunakan perangkap lem kuning atau lem tikus bening yang dicampur dengan sedikit metyl eugenol untuk menangkap lalat buah dewasa. c. Pengasapan dengan membakar sampah kering, dan dibagian atasnya ditutupi sampah basah, agar dapat dihasilkan asap dan tidak sampai terbakar. Kepulan asap yang menyebar ke seluruh bagian tanaman akan mengusir keberadaan hama lalat buah. d. Pemasangan mulsa plastik dapat menekan larva berubah menjadi pupa dan akhirnya mengurangi populasi serangga dewasa. 2. Pengendalian secara fisik/mekanis Gunakan perangkap atraktan metyl eugenol/cue lure yang dipasang atau digantung di dalam perangkap yang terbuat dari bekas air mineral untuk menangkap lalat jantan. Bagian dasar botol diberi sedikit air lalat buah mati terendam air. Sebaiknya perangkap dipasang dibagian luar lahan atau di bagian pinggir pertanaman, hal ini bertujuan agar lalat tidak terkumpul di tengah pertanaman 3. Pengendalian secara biologi a. Pengendalian lalat buah secara biologi dapat dilakukan dengan cara menghasilkan lalat buah jantan mandul. Teknik pengendalian jantan mandul berhasil mengendalikan hama lalat buah di Jepang. Dengan melepaskan serangga jantan yang sudah mandul, maka telur yang dihasilkan dari perkawinan dengan lalat betina menjadi steril atau tidak bisa menghasilkan keturunan, dan akhirnya populasi akan turun dan musnah. b. Memanfaatkan musuh alami baik parasitoid, predator atau patogen namun di Indonesia belum banyak diterapkan. Jenis parasitoid yang banyak ditemukan adalah Biosteres sp. dan Opius sp (Braconidae). Predator lalat buah yang umum adalah semut, laba-laba, kumbang stafilinid dan cocopet (Dermaptera). Jenis patogen yang banyak menyerang pupa lalat buah adalah Beauveria sp. 4. Pengendalian secara kimia a. Dapat dilakukan dengan cara pengabutan/pengasapan (fogging). Caranya menggunakan alat pengabutan panas (fogger) dan pestisida yang keluar berbentuk kabut/asap karena ukuran dropletnya sangat kecil. b. Pencampuran insektisida dengan zat penarik (atraktan) maupun food attraktan (tertarik dengan makanan). Food attraktan yang biasanya digunakan adalah berupa protein hidrolisa yang berasal dari limbah bir dan diberi insektisida spinosad kemudian disemprotkan pada tanaman. Umpan beracun akan dimakan oleh lalat buah jantan atau betina yang akhirnya dapat membunuh lalat buah. Ditulis oleh : Ely Novrianty, Suryani, dan Gohan Octora Manurung (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung) Sumber : Iptek Hortikultura Vol 10 Agustus Tahun 2014 oleh Hasyim, A, Setiawati, W, dan Liferdi (Balai Penelitian Tanaman Sayuran )