Loading...

TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA KAKAO

TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA KAKAO
Serangan OPT pada tanaman perkebunan, khususnya tanaman kakao selain menurunkan produksi, juga dapat menurunkan kualitas sehingga mempengaruhi harga produk. Kehilangan hasil pada kakao akibat serangan OPT di lapang merupakan kendala yang cukup dominan pada budidaya kakao di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari besarnya angka serangan OPT itu sendiri maupun dari besarnya angka input biaya pengendalian dalam pengelolaan tanaman kakao. Kerugian akibat serangan hama dan penyakit kakao setiap tahunnya mencapai 30-40%, sedangkan biaya pengendalian hama dan penyakit di perkebunan kakao di Indonesia rata-rata sebesar 40% dari komponen biaya produksi. Hal tersebut akan berdampak pada menurunnya pendapatan petani sehinga mengakibatkan kerugian petani yang cukup besar. Masalah hama bukan hanya akibat interaksi antara tanaman - hama itu sendiri, tetapi juga disebabkan oleh berbagai faktor fisik dan biota disekitarnya seperti iklim, cuaca, tingkat kesuburan tanah, mutu benih, teknik-teknik agronomi, keragaman biota, dan ulah manusia sendiri sebagai pengelola. Untuk itu penerapan teknologi pengendalian hama harus memperhatikan semua aspek diatas. Berdasarkan UU nomor 12 tahun 1992 dan PP nomor 6 tahun 1995, kegiatan penanganan OPT dilaksanakan dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam budidaya kakao, komponen teknologi PHT meliputi penggunaan varietas tahan, teknik pemangkasan yang tepat pada tanaman kakao dan penaung, sanitasi, konservasi dan pemanfaatan musuh alami, aplikasi pestisida biologi/hayati dan aplikasi pestisida kimia secara tepat dan bijaksana. Penggunaan varietas tahan Penggunaan varietas unggul pada budidaya kakao saat ini merupakan prioritas utama yang harus diikutsertakan dalam paket budidaya. Beberapa varietas unggul baru telah dihasilkan dan telah diuji coba antara lain DR1, DR2 dan DR3. Teknik pemangkasan yang tepat pada tanaman kakao dan penaung Pemangkasan tanaman kakao dilakukan agar dapat menghasilkan bentuk pertumbuhan yang baik dan produkif serta mempunyai umur ekonomis yang panjang sedangkan pemangkasan pohon pelindung dilakukan agar tidak menutupi tanaman kakao dan menghalangi sinar matahari serta menimbulkan persaingan dengan tanaman utama dalam mendapatkan air dan hara. Pemangkasan yang benar sangat kualitatif, tetapi indikator yang dapat digunakan adalah (1). Pada siang hari dilantai kebun terdapat spot-spot cahaya matahari, namun gulma tidak tumbuh lebat; (2) suasana didalam kebun tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap; (3) bunga dan buah merata pada bagian pokok dan cabang-cabangnya dan; (4) pembuahan dan diameter batang tanaman yang berada di tengah kebun dan pinggir kebun sama. Sanitasi lingkungan sekitar Sanitasi merupakan tindakan pembersihan areal perkebunan kakao dari sampah seperti ranting, cabang dan daun serta bahan lainnya seperti sisa-sisa kulit buah hasil panen termasuk juga buah kakao yang terserang hama penyakit. Disamping itu juga pembersihan terhadap gulma atau rumput. Sanitasi ini dapat diikuti dengan pembuatan lubang pengomposan untuk menimbun hasil pembersihan yang pada akhirnya hasil dari pengomposan tersebut dapat menjadi sumber pupuk organik bagi tanaman. Konservasi dan pemanfaatan musuh alami Konservasi musuh alami umumnya dilakukan untuk mengatasi OPT jenis hama. Konservasi musuh alami dapat dilakukan melalui pengembangan teknik pengelolaan ekosistem yang tidak berdampak negatif terhadap musuh alami. Konservasi musuh alami dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain : 1) penerapan teknik budidaya tanaman sehat yang mendorong berperannya musuh alami misalnya : penanaman varietas tahan, sanitasi selektif dan penanaman sistem tumpangsari; 2) pengumpulan dan pemeliharaan musuh alami dan 3) penggunaan pestisida secara bijaksana. Pestisida digunakan sebagai pilihan akhir apabila populasi hama tidak dapat dikendalikan dengan cara lain dan apabila berdasarkan hasil pemantauan populasi hama telah melampaui ambang kendali. Pengendalian hayati dengan musuh alami dan pestisida nabati Pengendalian hayati dengan musuh alami dan pestisida nabati merupakan teknik pengendalian yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan keracunan pada manusia dan ternak, tidak menyebabkan resistensi hama, musuh alami bekerja secara selektif terhadap inangnya atau mangsanya, dan bersifat permanen untuk jangka waktu panjang lebih murah, apabila keadaan lingkungan telah stabil atau telah terjadi keseimbangan antara hama dan musuh alaminya. Pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh-musuh alami dapat menggunakan predator, parasit dan pathogen sedangkan pengendalian hayati dengan menggunakan pestisida nabati dapat menggunakan ekstrak tumbuhan yang efektif untuk pengendalian seperti ekstrak biji/daun nimba, daun tembakau, sirih hutan, umbi gadung, biji srikaya/nona sebrang, daun gamal dan biji jarak. Aplikasi pestisida kimia secara tepat dan bijaksana Dalam konsep PHT, penggunaan pestisida kimia juga merupakan salah satu komponen didalamnya. Akan tetapi penggunaan pestisida merupakan pilihan terakhir apabila cara lain sudah tidak mampu mengatasi. Penggunaan pestisida harus dilakukan secara tepat (tepat waktu, jenis tanaman, jumlah/dosis, sasaran/OPT aplikasi, tempat dan alat) serta bijaksana. Penggunaan pestisida harus secara selektif untuk mengendalikan hama pada tingkat keseimbangannya. Penggunaan pestisida diputuskan setelah dilakukan analisis ekosistem terhadap hasil pengamatan dan ketetapan ambang kendali. Pestisida yang dipilih harus efektif dan direkomendasikan. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Siswanto dan Elna Karmawati, 2011. Percepatan Adopsi Teknologi PHT Kakao Di Sulawesi Selatan. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Rein Senewe dan M. Pesireron, 2007. Pengendalian Hama Secara Terpadu Terhadap Hama dan Penyakit Utama Kakao di Maluku. Seminar Nasional : Akselerasi Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Ketahanan Pangan di Wilayah Kepulauan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku. Sunarno. Pengendalian Hayati ( Biologi Control ) Sebagai Salah Satu Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT). https://www.journal.uniera.ac.id