Loading...

TEKNOLOGI PRODUKSI KACANG TANAH PADA LAHAN SALIN

TEKNOLOGI PRODUKSI KACANG TANAH PADA LAHAN SALIN
Menurut data BPS Prov. Kalbar (2016) luas panen tanaman kacang tanah di Kalimantan Barat pada tahun 2015 mencapai 841 hektar dengan rata-rata produktivitas 1,1 ton/ha dan total produksi 945 ton. Pertanaman kacang tanah ini menyebar di Kabupaten Bengkayang 266 ha, Landak 103 ha, Sintang 158 ha, Kubu Raya 53 ha, Ketapang 38 ha, dan Sanggau 112 ha. Salah satu varietas kacang tanah yang pernah diujicoba di Entikong, Kabupaten Sanggau oleh BPTP Kalimantan Barat adalah Varietas Jerapah. Tahun 2015 luas panen kacang tanah di Kabupaten Sambas mencapai 14 ha dengan produktivitas 1 ton/ha dan produksi 14 ton. Kacang tanah di Kabupaten Sambas ini lebih didominasi oleh pertanaman pada lahan pasang surut. Masalahnya lahan pasang surut di beberapa lokasi seperti di Kecamatan Teluk Keramat, Jawai Selatan, Jawai, dan Paloh ada yang terdampak intrusi air asin atau air salin. Hal ini menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas kacang tanah di lahan salin. Lahan salin umumnya berada di dekat pantai, tetapi lahan-lahan yang intensif menggunakan air tanah se-bagai air irigasi dapat menjadi salin bila kandungan garam dalam air tinggi. Batas kritis salinitas untuk kacang tanah adalah 3,2 dS/m. Dibanding keadaan normal kondisi salinitas 4,1; 4,9; dan 6,5 dS/m me-nurunkan hasil berturut-turut 25%; 50%; dan 100%. Hasil penelitian di Lamongan dan Tuban( DHL tanah 11-15 dS/m), varietas Hypoma 2 dan Domba masih dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan polong.Tanah salin umumnya mempunyai pH 8,5 dan ESP>15% disebut tanah sodik. Tanah salin dengan pH15% disebut tanah salin-sodik. Tanah salin umumnya bertekstur liat dan struktur masif.Rekomendasi TeknologiBerikut ini adalah rekomendasi teknologi budidaya kacang tanah pada lahan salin oleh Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Teknologi budi daya ini disusun berdasarkan hasil penelitian di rumah kaca dan pada lahan sawah salin dengan DHL 8-19 dS/m.Bila tersedia mulsa jerami1. Tanah diolah dengan rotary2. Gunakan varietas kacang tanah toleran salin misalnya: Hypoma 2 dan Domba3. Jarak tanam 40 cm x 15 cm, 1-2 tanaman/ rumpun.4. Dosis pupuk 75 kg Urea + 100 kg SP36 + 50 kg KCl per ha (setara 200 kg Phonska + 25 kg Sp36). 5. Mulsa jerami 3,5 t/ha.6. Ameliorasi dengan 750 kg S/ha atau dengan 200 kg KCl/ha, disebar bersamaan/setelah pengolahan tanah. 7. Pengairan sesuai kebutuhan. Air dengan DHL 4,1 dS/m masih dapat digunakan untuk pengairan.8. Pengendalian gulma, hama dan penyakit sesuai kebutuhan.Bila tidak tersedia mulsa jerami1. Tanah diolah dengan rotary2. Gunakan varietas kacang tanah toleran salin misalnya: Hypoma 2 dan Domba3. Jarak tanam 40 cm x 15 cm, 1-2 tanaman/ rumpun.4. Dosis pupuk 75 kg Urea + 100 kg SP36 + 50 kg KCl per ha (setara 200 kg Phonska + 25 kg Sp36).5. Ameliorasi dengan 5 t/ha pupuk kandang, disebar bersamaan/setelah pengolahan tanah.6. Pengairan sesuai kebutuhan. Air dengan DHL 4,1 dS/m masih dapat digunakan untuk pengairan.7. Pengendalian gulma, hama dan penyakit sesuai kebutuhan.Petani umumnya menanam padi sekali pada musim hujan karena pada saat itu salinitas tanah lebih rendah (4-6 dS/m) dan tersedia cukup air non salin untuk pengairan. Pada musim kemarau, salinitas cukup tinggi (14-19 dS/m), dan tidak tersedia air irigasi non salin. Kacang tanah varietas Hypoma 2 dan Domba sangat toleran terhadap salinitas dan toleran kekeringan. Dengan membudidayakan kacang tanah setelah padi maka intensitas pertanaman (IP) meningkat dari IP100 (padi-bero) menjadi IP200 (padi-kacang tanah), dan petani akan mendapatkan tambahan penghasilan dari kacang tanah. (Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc., BPTP Kalimantan Barat) Sumber: Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 2017. Budidaya Kacang Tanah di Lahan Salin. http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2017/03/Leaflet_kacangtanah_salin_2017-.pdf