Pendahuluan Cabai merah (Capsicum annum) merupakan salah satu jenis sayuran penting yang bernilai ekonomis tinggi dan potensial untuk dikembangkan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung karena ketersediaannya saat ini sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah (Palembang dan Jawa). Kondisi ini merupakan peluang bagi petani di Bangka Belitung untuk bertanam cabai. Peluang untuk berbisnis cabai juga sangat besar dikarenakan areal tanam yang masih sedikit sementara kebutuhan akan cabai terus meningkat yang berdampak pada tetap mahalnya harga cabai. Kabupaten Bangka dan Bangka Tengah merupakan daerah penghasil cabai terbesar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kabupaten Bangka meliputi Kecamatan Mendo Barat dan Kecamatan Puding Besar sementara di Kabupaten Bangka Tengah Budidaya terbesar ada di Kecamatan Koba dan Lubuk Besar. Kendala yang masih dihadapi beberapa petani di Pulau Bangka dalam budidaya cabai adalah provitas yang cenderung fluktuatif setiap musim tanam. Provitas cabai sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, OPT dan kesuburan tanah. Untuk itu diperlukan manajemen pengelolaan agar tanaman cabai berproduksi tinggi melalui inovasi teknologi proliga (produksi lipat ganda). Teknologi Proliga Cabai Penerapan inovasi teknologi proliga difokuskan pada 3 aspek yaitu peningkatan produktivitas > 20 ton/ha cabai merah, efisiensi input produksi > 20 % dan mengurangi kerusakan/kehilangan hasil karena serangan OPT < 10 %. Untuk mencapai ketiga aspek tersebut, dibutuhkan strategi khusus agar mendapatkan produksi lipat ganda yaitu varietas unggul, persemaian yang sehat, kepadatan populasi, provitas pertanaman minimal 1 kg dan kehilangan hasil karena OPT < 10 %. Ada 6 kompoten teknologi yang digunakan antara lain : (1) penggunaan varietas yang adaptif dan disukai masyarakat; (2) Isolasi dan perlakuan dipersemaian; (3) Populasi 30000 tanaman dengan jarak tanam 50 cm x 70 cm; (4) Penanaman 4 baris tanaman jagung sebagai barrier vektor virus kuing; (5) Pengelolaan unsur hara dengan pemberian 20 ton pupuk kandang ayam dan 1000 kg NPK dan; (6) Pengendalian OPT dengan prinsip pengendalian hama terpadu. Pemilihan Varietas Dalam pemilihan varietas cabai ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain (a) Sesuai dengan permintaan pasar (rasa, warna, penampakan, ukuran); (b) Produktivitas tinggi; (c) Tahan terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT); dan (d) Beradaptasi baik dengan kondisi ekosistem setempat. Varietas yang direkomendasikan antara lain lingga, kencana, mega top dan PM 99. Varietas kencana mempunyai keunggulan adaptif musin ekstrim basah, toleran terhadap genangan dan toleran serangan antraknose. Perbenihan Sehat Pertanaman yang dimulai dari penggunaan benih yang sehat dengan pengelolaan yang baik sesuai standar tentu akan menghasilkan buah cabai dengan provitas tinggi. Langkah langkah dalam memperoleh benih yang sehat adalah benih harus bersertifikat, dilakukan perlakuan benih, dilakukan sterilisasi pada media semai, penggunaan sungkup sebagai tindakan isolasi persemaian, pemangkasan/picing dan dilakukan imunisasi daun bunga. Perlakuan benih Perlakuan benih merupakan kegiatan perlindungan awal tanaman terhadap serangan hama dan penyakit terutama pada stadia bibit. Tujuannya adalah untuk mematahkan masa dormansi benih dan memilih benih yang bernas sehingga benih dapat tumbuh sehat dan seragam. Ada dua metode perlakuan benih cabai sebelum disemai antara lain (1) dilakukan perendaman benih dalam larutan fungisida propamokarb hidroklorida (1 ml/l) selama 1 jam, perlakuan ini dapat mengendalikan fungi dan bakteri yang menempel pada benih, (2) Selain itu perlakuan awal benih dapat dilakukan dengan cara merendam benih dengan air hangat 50 – 60 oC selama 2 jam, perlakuan ini dengan tujuan untuk mengendalikan fungi, bakteri dan virus. Sterilisasi Media Semai Langkah selanjutnya untuk memperoleh benih yang sehat adalah dengan melakukan sterilisasi media semai. Media persemaian terdiri dari campuran tanah halus dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1:1 (tanah:pupuk kandang) atau campuran tanah halus, pupuk kandang/kompos dan sekam bakar dengan perbandingan 3:2:1 (tanah: pupuk kandang:sekam bakar) yang sudah disterilkan dengan uap air panas (dikukus) selama 4 jam (tergantung ukuran alat kukus). Setelah selesai dikukus, dinginkan kemudian lakukan pengisian media ke dalam pot tray/kantong plastic ukuran 4 x 6 cm atau pun daun pisang yang telah dibuat seperti kantong dengan ukuran 4 x 6 cm. Isolasi di Persemaian Isolasi dipersemaian berupa benih diletakan di rumah sungkup dengan atap dari plastik transparan (UV), dinding dari kain sifon (screan dengan ukuran mes 72/cm). Ukuran sungkup tinggi 1,5 – 2 m dengan lebar dan panjat dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Sebelum memasukkan media semai sebaiknya lakukan sterilisasi dan pembersihan gulma. Lakukan aplikasi insektisida thiametoksam dan pemantauan dengan perangkap kuning. Tempat persemaian yang tidak tepat adalah sungkup terlalu pendek serta bagian bawah terlalu terbuka. Pemangkasan Benih Cabai Pemangkasan benih cabai dilakukan untuk memperoleh arsitektur tanaman lebih baik, jumlah cabang lebih banyak, dan produktivitas lebih tinggi. Namun kegiatan pemangkasan benih ini memiliki beberapa kelemahan antara lain pertumbuhan tanaman menjadi terhambat sehingga umur berbunga pun lebih lambat sekitar 1 minggu. Teknik pemangkasannya dengan cara (1) pemangkasan dilakukan ketika bibit berumur 2 – 3 minggu; (2) lakukan pemangkasan dengan jaraknya 4 mm diatas daun yang pertama kali muncul; (3) pemangkasan menggunakan pisau/gunting yang tajam dan steril, disisakan 2 daun saja; (4) Setelah selesai agar bekas potongan terhindar dari infeksi penyakit disemprotkan dengan fungisida sesuai anjuran; (5) bibit siap dipindah tanam ke lahan setelah tanaman berdaun 5 lembar atau tiga minggu setelah pemangkasan. Peningkatan Kepadatan Populasi Peningkatan populasi tanaman dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanam. Pada proliga cabai jarak tanam yang dianjurkan adalah 70 X 50 cm atau 60 x 50 cm atau 70 x 40 cm atau 60 x 40 xm dengan sistem tanam dua satu zig zag sehingga didapatkan populasi tanaman sekitar 30.000 tanaman. Pengelolaan Tanah, Hara Dan Air Kegiatan pengelolaan lahan meliputi pengecekan pH, pengolahan lahan, penggunaan mulsa plastik hitam perak dan pemupukan. Pengecekan pH tanah bertujuan untuk mengetahui tingkat keasaman atau kebasaan tanah. Jika pH tanah < 6,5 maka dilakukan pengapuran, pengapuran dilakukan pada saat pengolahan tanah pertama dan dibiarkan selama satu bulan. Tahapan selanjutnya pengolahan tanah meliputi penjemuran tanah (2-3 MST) pada pengolahan pertama. Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki drainase dan aerasi tanah dengan cara meratakan permukaan tanah, serta mengendalikan gulma dan akar-akar tanaman yang dapat tumbuh dan berkembang dengan leluasa sehingga akan mengganggu pertumbuhan tanaman cabai merah nantinya. Tanah dicangkul sedalam 30-40 cm sampai gembur. Selanjutnya dibuat bedengan (guludan) dengan ukuran lebar 90-100 cm, tinggi 20-30 cm (musim kemarau) 40-50 cm (musim hujan), dan jarak antar bedengan 30-50 cm. Setelah pembuatan bedengan selanjutnya dilakukan adalah pemasangan mulsa plastik. Penggunaan mulsa plastik bertujuan untuk menekan gulma inang virus, menekan populasi vektornya dan menjaga kelembaban tanah. Pelubangan dilakukan 15 hari setelah pemasangan mulsa plastik. Pemupukan Pupuk yang diaplikasikan pada proliga cabai adalah berupa pupuk organik dan anorganik. Pemberian pupuk dasar sebanyak 20-30 ton/ha pupuk kandang sapi/ayam dan pupuk kimia NPK Phonska sebanyak 700-1.000 kg/ha yang diberikan satu minggu sebelum tanam. Pemberian pupuk dilakukan dengan sistem cor, yaitu pupuk dilarutkan dalam air (10-20 g/l), kemudian disiramkan pada lubang tanaman atau disekitar tanaman (100-200 ml per tanaman). Sebelumnya juga diberikan kapur pertanian (dolomit) sebanyak 1-2 t/ha. Pemeliharaan Tanaman cabai merah tidak tahan terhadap kekeringan, dan tidak tahan terhadap genangan air. Apabila tidak ada hujan kondisi tanah kering, tanaman cabai merah perlu diairi, kondisi kritis diperlukan pengairan pada saat tanam, pertumbuhan vegetatif, fase pembungaan, dan pembuahan. Kegiatan pemeliharaan lainnya adalah pembuangan tunas air. Tunas air tumbuh setelah cabai berumur dua bulan, tunas- tunas air tanaman sampai dengan ketinggian 15 - 25 cm (tergantung pada varietas yang ditanam) dari permukaan tanah dipangkas. Pembuangan tunas air bertujuan untuk menghindari percikan air penyiraman yang menempel pada bagian tanaman, mengoptimalkan percabangan utama, dan mengurangi kelembaban disekitar pertanaman. Pengendalian gulma juga merupakan kegiatan pemeliharaan utama yang harus diperhatikan. Penyiangan gulma mulai dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah tanam. Penyiangan dilakukan secara manual antar rumpun tanaman cabai merah dan menggunakan alat siang atau herbisida diantara bedengan. Tanaman cabai rentan terhadap serangan hama penyakit. Hama penyakit utama yang menyerang pertanaman cabai adalah penggerek buah, keriting daun, rontok daun, lalat buah dan patek. Untuk menekan kehilangan hasil akibat serangan OPT dapat dilakukan dengan prinsip pengendalian hama terpadu. Pemanfaatan border jagung sebagai tanaman refugia juga baik dilakukan untuk mengendalikan atau menghambat serangan hama utama tanaman cabai terutama yang disebabkan oleh trip atau tungau. Teknis penanaman tanaman border ini adalah; (1) Jagung ditanam 3 – 4 minggu sebelum tanam cabai, (2) Jagung ditanam sebanyak 5-6 baris secara zigzag dan (3) Jarak antar border jagung dengan cabai 1 m. Selain itu untuk mengendalikan hama juga dapat menggunakan perangkap hama seperti penggunaan feromonoid seks, perangkap lekat dan perangkap metil eugenol (ME). Perangkap lekat warna biru atau putih digunakan untuk menekan serangan trips, feromonoid seks untuk perangkap serangga jantan sehingga serangga betina menjadi mandul, perangkap lekat kuning untuk menekan serangan kutu kebul dan aphid dan perangkap metil eugenol untuk menekan serangan lalat buah. Sumber Bacaan : F. Artani, Misran dkk. 2020. Petunjuk Teknis Teknologi Produksi Lipat Ganda (Proliga) Cabai. BPTP Sumatera Barat. Padang. Balitbangtan. 2019. Proliga tingkatkan produksi cabai 2 kali lipat. http://www.litbang.pertanian.gid/info-aktual/3815/ Bagus K dan Wiwin Setiawati. 2019. Proliga Cabai Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Jawa Barat.