Pembelajaran Agrometeorologi dalam kegiatan Warung Ilmiah Lapangan (Science Field Shops) dengan petani dan Penyuluh Pertanian untuk Penyajian Jasa Layanan Iklim dalam Pertanian oleh Prof. Kees (C.J) Stigter (Almarhum) dan Prof. Sue Walker yang diterjemahkan oleh Prof. Yunita T. Winarto, ada tujuh jasa layanan iklim yang diberikan kepada petani diantaranya adalah :a. Panduan untuk Mengukur Curah Hujan oleh Petani di Lahannya Sendirib. Panduan untuk Pengamatan Agor-Ekologic. Mengukur dan Mengevaluasi Hasil Panend. Pengorganisasian dari Warung Ilmiah Lapangan dan Klub/Kelompok Pengukur Curah Hujane. Skanario Curah Hujan Musiman:Perkembangan dan Pertukarannyaf. Menyajikan Pengetahuan Barug. Panduan untuk Eksprimen di Lahan Petani Di Kabupaten Lombok Timur ada enam (9) kelompok pengukur curah hujan yang sudah terbentuk dan sudah tersebar dibeberapa Kecamatan diantaranya adalah Kecamatan Jerowaru, Kecamatan Keruak, Kecamatan Sakra Barat, Kecamatan Sakra, Kecamatan Sakra Timur dan Kecamatan Terare. Namun seriring waktu 3 kelompok pengukur curah hujan bubar di karenakan kesibukan para anggota dengan pekerjaannya dan banyak anggota yang menjadi tenaga kerja baik di Luar Negeri maupun di Dalam Negeri serta masih ada anggota yang belum bisa membaca dan menulis. Adapun 3 Kelompok yang sudah bubar adalah kelompok pengukur curah hujan di Kecamatan Sakra Timur, Kecamatan Terare dan di Kecamatan Jerowaru yaitu di Desa Pemongkong. Sedangkan 6 kelompok pengukur curah hujan yang masih aktif sampai saat ini adalah kelompok pengukur curah hujan (KPCH) Desa Pandan Wangi Kecamatan Jerowaru, KPCH Desa Setungkep Lingsar,KPCH Desa Sepit, KPCH Desa Penendem bergabung dengan Desa Senyiur Kecamatan Keruak, KPCH Desa Sakra Barat Kecamatan Sakra Barat dan KPCH Kasih Sayang Desa Sakra Kecamatan Sakra.Kegiatan pengukuran curah hujan dan pengamatan agroekosistem merupakan program Pembelajaran Agrometeorologi dalam Warung Ilmiah Lapangan yang di fasilitasi oleh TIM Pusat Kajian Antropologi (PUSKA) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, dan didanai oleh ICCTF dan BAPENAS. Kegiatan rutin yang dilakukan kelompok ini adalah pengukuran curah hujan dalam 24 jam dan yang diukur adalah ketinggian curah hujan dalam melimeter, Pengamatan Agroekosistem,pertemuan berugak dan evaluasi bulanan. Hal-hal yang dilakukan dalam evaluasi bulanan adalah membuat grafik curah hujan selama satu bulan, danfak curah hujan terhadap lahan dan tanaman serta pengamatan ekosistem dilahan. Dengan melakukan evaluasi bulanan seperti ini petani bisa bertukar pikiran, berbagi pengalaman mengenai pertanian, curah hujan sehingga petani memperoleh informasi dan berharap kedepan bisa meningkatkan hasil produksi, bisa mengambil keputusan dalam bertani dan terpenting adalah tidak mengalami gagal panen karena membuat keputusan yang salah. 1. Jasa Layanan Iklim tentang Pengukuran Curah HujanHujan adalah air yang berasal dari awan dilangit (distribusi frekuensinya bervariasi dalam musim “musim tahunan), menjelaskan siklus hidrologis dan pembentukan titik-titik air di dalam awan, ( Buku Panduan Pelatihan Bagi Pelatih: Petugas Penyuluhan Pertanian dan Petani-Pemandu Untuk Memandu Warung Ilmiah Lapangan (Science Field Shops) ), sedangkan menurut Buletin Iklim BMKG Nusa Tenggara Barat, Stasiun Klimatologi Kelas I Lombok Barat, hujan adalah butir-butir air atau Kristal es yang keluar dari awan yang sampai ke permukaan bumi. Ada beberapa macam sifat hujan diantaranya di atas normal, normal dan bawah normal. Menurut Buku Buletin Iklim BMKG NTB, bahwa yang dikatakan di Atas Normal (AN) adalah jika nilai perbandingan jumlah curah hujan selama satu bulan terhadap rata-ratanya >115%, sedangkan untuk sifat hujan normal (N) adalah jika nilai perbandingan jumlah curah hujan selama satu bulan terhadap rata-ratanya 85-115% dan jika sifat hujan di Bawah Normal (BN) artinya jika nilai perbandingan jumlah curah hujan selama satu bulan terhadap rata-ratanya Alat yang digunakan oleh petani dalam pengukuran curah hujan adalah centong yang sudah terstandarisasi, berbentuk silender dengan diameter 11,5 cm dan tinggi 22 cm yang dipasang pada tiang pancang dengan ketinggian 1,5 meter dari permukaan tanah. Bagian dasar/bawah dan bagian ataspermukaan alat perangkap hujan itu harus sama ukurannya. Pada waktu pengukuran curah hujan biasanya petani mengukur pada pukul 07.00 pagi hari yaitu dalam rentang waktu antara pukul 06.30-07.30 pagi. Hal ini perlu dilakukan pada saat yang sama setiap hari oleh petani pengukur curah hujan di semua lahan sehingga hasil pengukuran itu dapat diperbandingkan. Apabila tidak ada hujan biasanya petani menuliskkan '0', bila petani tidak mengukur karena lupa atau karena kesibukan yang lain biasanya dituliskan strip '-' dalam buku catatan.nilai-nilai yang diperoleh harus dicatat segera dalam buku catatan yang kecil dan dipindahkan sesegera mungkin dalam buku catatan petani. Alat ini harus tidak boleh diletakkan di dekat rumah, dan alat ini harus diletakkan pada jarak 5 kali tinggi pohon jauhnya dari pepohonan atau gedung-gedung. Tujuannya adalah supaya tidak ada titik-titik atau cipratan-cipratan air dari benda-benda sekitar yang bisa masuk ke dalam centong. Air hujan yang masuk ke dalam centong pada tiang itu bisa representatif atau mewakili curah hujan yang diterima oleh lahan. Alat untuk mengukur curah hujan petani menggunakan suatu tongkat/lidi yang dapat meresap (yang dicat putih) dengan bagian ujung yang halus dan lurus sehingga dapat berdiri tegak pada dasar alat perangkap hujan bila diletakkan dipermukaan yang datar. Tongkat/lidi yang sudah dicelupkan ke dalam centong kemudian diangkat dan diukur panjangnya bagian tongkat/lidi yang basah itu dalam melimeter dengan menggunakan penggaris plastik. 2. Jasa Layanan Iklim tentang Pengamatan Agro-EkologiPetani selain melakukan pengukuran curah hujan juga melakukan pengamatan terhadap agroekologi yaitu tanah, tanaman,air, biomasa,hama, peristiwa-peristiwa iklim ekstrem. Dalam data agroekosistem yang dicatat petani adalah tentang komoditas, ekosistem dan irigasi, tanah, manajemen lahan, menebar benih dan membuat persemaian. Hal-hal yang dilakukan petani pada saat pengamatan harian adalah bagaimana danpak curah hujan pada lahan, mencatat jadwal tanam, pengelolaan air (mencatat dan mengukur keadalaman air), mencatat bagaimana kondisi pertumbuhan tanaman, mencatat jadwal aplikasi pemupukannya yaitu tipe dan jumlah yang diaplikasikan, mencatat hama dan penyakit, bagaimana strategi pengendalian hama dan penyakit serta mencatat musuh alami yang ada pada tanaman. Pada akhir musim panen juga petani mencatat berapa hasil produksi serta meneliti kedalaman akar.3. Jasa Layanan iklim tentang Menghitung Hasil PanenDalam kegiatan ini petani bisa menjelaskan perbedaan hasil panen satu dan yang lain berdasakan pengukuran, pengamatan, dan asupan (jumlah dan waktu) yang tersedia,yang terjangkau dan telah digunakan (varietas, air, pupuk, pestisida, tenaga kerja, tenaga mesin dan pengetahuan). Dalam Evaluasi Panen, perlu diperhatikan mengenai pertumbuhan tanaman dan lama periode pengisian gabah serta pertumbuhan gabah. Kegiatan-kegiatan yang di lakukan Kelompok Pengukur Curah Hujan setelah panen adalah mempersiapkan data hasil panen untuk melakukan perbandingan dengan hasil tanaman dari musim dan tahun yang berbeda atau membandingkan dengan produksi petani lainnya. Dalam membandingkan hasil panen hal-hal yang perlu di deskripsikan dan jelaskan oleh petani adalah mengenai pengukuran curah hujan (jumlah curah hujan; distribusi curah hujan selama satu musim; musim kering dan musim hujan terpanjang serta waktu terjadinya musim tersebut), pengamatan Agro-Ekologi terutama infestasi hama dan penyakit serta jumlah dan waktu asupan, pengeluaran dan jumlah yang digunakan, frekuensi penyemprotan.4. Jasa Layanan Iklim tentang Pengoorganisasian Warung Ilmiah Lapangan (WIL).Dalam Pengoorganisasian Warung Ilmiah Lapangan (WIL), merupakan jasa yang dikembangkan bersama petani selama program ini. Hal-hal penting mencakup pembentukan klub/kelompok, pemilihan pemimpin, dan tugas-tugas ketua, sekretaris dan bendahara untuk setiap kelompok /klub (inti/satelit). Secara umum anggota klub/kelompok merupakan petani pengukur curah hujan yang setuju telah berkomitmen untuk melakukan pengamatan harian baik curah hujan maupun parameter agro-ekologis dan mendokumentasikannya berdasarkan metode dalam WIL. Anggota harus setuju untuk berkomitmen menghadiri pertemuan evaluasi bulanan yang menjadi tempat didiskusikannya pengamatan lahan dan curah hujan. Fungsi dari WIL akan didiskusikan menggunakan perspektif dan pengalaman petani-petani yang telah berpartisipasi dalam WIL.5. Jasa Layanan Iklim tentang Perkiraan Hujan atau Skenario Musiman : Penyusunan dan PenyebarannyaPembaharuan Informasi prakiraan iklim diperoleh setiap bulan dari prediksi model iklim global (global climate models predictions) oleh NOAA ( Lembaga Pengamatan Kelautan dan Atmosfir di bawah Kementerian Perdagangan Amerika Serikat), IRI (Lembaga Penelitian Internasional, Universitas Columbia Amerika Serikat), BOM (Badan Penelitian Kelautan dan Meteorologi) Australia. Sknario musiman tersebut adalah rangkuman dari kemungkinan terjadinya hujan pada tiga bulan ke depan mengacu pada prediksi indikator ENSO (EL-Nino Southern Osciallation) yang berdasarkan pada pengamatan suhu permukaan laut dan perbedaan tekanan SOI (Index Oskilasi Selatan, Southern Oscillation Index) http://iri.columbia.edu/our-expertise/climate/forecasts/enso/current/, http://www.bom.gov.au/climate/enso/ . Sknario musiman tersebut diperbaharui setiap satu bulan sekali dan disebarkan melalui sms dalam bentuk pesan sepanjang dua kalimat dalam Bahasa Indonesia dan di sebarkan ke semua anggota pengukur curah hujan dan melalui anggota nanti Skanario Musiman bisa disebarkan ke semua petani. Ada dua masalah penting yang sering menghambat pemanfaatan skanario musiman oleh petani dalam rangka meningkatkan ketangguhan mereka menghadapi keragaman kondisi iklim. Persoalan tersebut adalah keterampilan dalam membuat prakiraan iklim dan penggunaan istilah dalam menyampaikan prediksi skenario hujan musiman. Perlu diperhatikan bahwa skenario musiman merupakan bagian dari upaya untuk membantu petani dalam beradaptasi terhadap kondisi keragaman iklim, sehingga mereka dapat menyesuaikan praktik pertanian dengan cara mengembangkan strategi adaptasi yang cocok dengan kondisi iklim tertentu dan agar lebih tangguh.6. Jasa Layanan Iklim tentang Menyajikan Pengetahuan BaruPenyajian Pengetahuan baru itu menjadi dasar dari semua kegiatan ini. Semua itu terkait dengan upaya untuk memungkinkan petani memahami sistem pertanian dan interaksinya dengan iklim dan cuaca. Yang didiskusikan terutama tertuju pada pertanyaan-pertanyaan seputar pertanian/klimatologi karena hal-hal itulah yang merupakan variabel “ variabel yang tidak terkendalikan dalam sistem-sistem pertanian atau budidaya tanaman. 7. Jasa Layanan Iklim tentang Panduan Untuk Eksprimen di Lahan PetaniKegiatan Eksprimen di Lahan Petani adalah untuk memperoleh jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul setempat tentang apa yang terjadi dilahan. Ada beberapa contoh dari eksprimen dilahan petani yang dapat dilakukan diantaranya :a. Eksprimen dilahan petani untuk menguji keseragaman/keasaman tanah yang tersebar di sebidang lahan.b. Eksprimen dilahan petani dengan varietas tujuannya adalah untuk mengetahui varietas apa yang menghasilkan panen tertinggi dan yang paling cocok dengan lahan petani untuk musim itu.c. Eksprimen dilahan petani dengan air, yang dapat dibandingkan adalah bagi tanaman dilahan irigasi, sedangkan untuk untuk lahan tadah hujan, petani tidak dapat mengontrol jumlah air yang diaplikasikan dalam produksi lahan tadah hujan kecuali petani membangun atap atau penutup di atas bagian-bagian lahan untuk memperoleh jumlah air yang berbeda-beda. Dengan air, petani dapat melakukan eksprimen dalam hal jumlah dan waktu. Petani memiliki kebebasan tambahan dari tambahan air irigasi dari embung.d. Eksprimen dilahan petani dengan pupuk. Sering kali ada pertanyaan-pertanyaan tentang jumlah optimal dari pupuk dan kapan waktu yang terbaik untuk mengaplikasikannya. Petani dapat melakukan eksprimen “ eksprimen yang sangat bermanfaat untuk meminimalkan jumlah pupuk (kombinasi pupuk) tertentu, untuk menemukan apakah petani tidak menggunakan pupuk itu terlalu banyak/berlebihan, selain itu bermanfaat untuk menemukan apakah makna dari memulai penggunaan pupuk organik dan membandingkannya dengn pupuk kimia. Akan tetapi untuk melakukan hal itu, petani harus pertama kali menemukan konsekuensi-konsekuensi dari sejarah cocok tanam dari lahan-lahan yang dieksprimenkan.e. Eksprimen dilahan petani dengan pestisida. Ada banyak hal yang dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida organik daripada pestisida anorganik/kimia. Lahan-lahan dengan penggunaan pestisida kimia dalam jangka panjang telah menyebabkan tertimbunnya banyak sekali residu-residu beracun di dalam tanah dan ditanaman. f. Eksprimen dilahan petani dengan tenaga kerja (untuk tandur-irigasi-penyemprotan)g. Eksprimen dilahan petani dengn peralatan/mesin atau pengolahan tanah h. Eksprimen dilahan petani dengan pengetahuan. Ada sejumlah aspek “ aspek yang berbeda dari pengetahuan atau informasi berbeda yang telah dipelajari sejak awal diperkenalkannya Warung Ilmiah Lapangan dan berdirinya Kelompok Pengukur Curah Hujan. Pertimbangkan pengetahuan yang telah disajikan oleh ilmuan tentang pengaruh negatif dari gelombang panas atas hasil panen padi. Ilmuan (Prof. Kees Stigter dan Yunita T. Winarto, 2013) telah menuliskan sebuah makalah tentang '' Padi dan Perubahan Iklim'' yang isinya digunakan untuk memberikan saran pada petani. Pengetahuan petani sama pentingnya dan bersama-sama dapat menggunakan eksprimen-eksprimen dilahan petani untuk meningkatkan dan memperkaya pengetahuan tentang pilihan-pilihan terbaik dari alternatif-alternatif yang berlaku bagi suatu wilayah khusus/tertentu.