Loading...

UNIKNYA PENAMPILAN FENOTIPIK VARIETAS LOKAL TALAS HITAM KALIMANTAN BARAT

UNIKNYA PENAMPILAN FENOTIPIK VARIETAS LOKAL TALAS HITAM KALIMANTAN BARAT
Talas termasuk kedalam suku talas-talasan (araceae), tanamannya tumbuh tegak dengan tinggi 0,4 “ 1,5 m, sistem perakarannya liar, berserabut dan dangkal. Talas merupakan tanaman umbi-umbian, bahan pangan sumber karbohidrat yang tinggi, sehingga tidak heran tanaman ini banyak digemari oleh masyarakat. Talas dapat tumbuh diberbagai jenis tanah dengan berbagai kondisi lahan baik lahan becek maupun lahan kering. Talas mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi karena hampir seluruh bagian tanaman talas dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari serta mempunyai kandungan gizi yang cukup (Widiyanti, 2008 dalam Miswinda, 2013). Jenis talas yang banyak dibudidayakan di Kalimantan Barat adalah varietas lokal talas hitam. Talas hitam ini memiliki warna pangkal daun ungu, bentuk cormus kerucut, warna korteks (kulit cormus) cokelat muda, warna daging cormus putih, warna serat daging cormus cokelat, pada permukaan kulit cormus terdapat serat, kulit cormus tipis, warna tunas merah muda, lingkar cormus dapat mencapai 34 cm (Subekti et al. 2013 dalam Subekti dan Wahyudi, 2015). Talas ini mengandung energi sebesar 163 kilokalori, protein 2,3 gram, karbohidrat 36,4 gram, lemak 0,5 gram, kalsium 45 miligram, fosfor 80 miligram, dan zat besi 1,7 miligram. Selain itu di dalam Talas Pontianak juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,02 miligram dan vitamin C 0 miligram (Anonim, 2012). Talas hitam ini selain dikonsumsi sebagai talas rebus atau goreng, juga telah diolah dengan berbagai produk olahan terutamanya kripik talas atau disebut juga kripik keladi dan telah dipasarkan diberbagai daerah di Kalimantan Barat. Talas hitam Pontianak dikembangkan di Kecamatan Siantan Kabupaten Mempawah, Kecamatan Kuala Mandor B Kabupaten Kubu Raya dan Kecamatan Pontianak Utara Kota Pontianak kurang lebih seluas 40 Ha. Uniknya penampilan fenotik talas hitam di tiga lokasi ini berbeda karena jenis tanah di 3 lokasi pengembangan talas hitam ini berbeda masing-masing alluvial di Kab. Mempawah, bergambut di Kab. Kubu Raya dan gambut di Kota Pontianak. Dari hasil penelitian Subekti dan Wahyuni (2015), talas hitam yang ditanam pada tanah bergambut di Kabupaten Kubu Raya memiliki berat cormus/umbi 695 gr dan diameter cormus 8,7 cm lebih besar daripada tanah gambut di Kota Pontianak dan tanah aluvial di Kabupaten Mempawah. Sedangkan untuk panjang cormus, talas hitam yang ditanam di lahan gambut dan bergambut lebih panjang daripada tanah alluvial. Hanya saja kalau dilihat dari umur panennya, talas hitam yang ditanam di lahan bergambut dapat dipanen pada umur 9 bulan lebih lama dari pada lahan gambut yang dapat dipanen pada umur 8 bulan, tetapi lebih cepat dari talas hitam pada lahan alluvial (10 bulan). Hal ini disebabkan tanah gambut maupun bergambut memiliki sifat memegang air lebih banyak dan tekstur tanahnya gembur sehingga talas yang merupakan tanaman yang bersifat sukulen memperoleh air yang cukup selama pertumbuhannya. Dengan demikian, budidaya talas hitam ini lebih berpotensi dikembangkan pada lahan bergambut dibandingkan lahan gambut dan alluvial. Hal ini disebabkan tanah bergambut memiliki struktur yang gembur dan tingkat kemasamannya masih dalam batas toleransi bagi pertumbuhan tanaman. (Ir. Sari Nurita, BPTP Kalimantan Barat) Sumber : Anonim, 2012. Isi kandungan Gizi Talas Pontianak- Komposisi Nutrisi Bahan makanan.http://www.organisasi.org/1970/01/isi-kandungan-gizi-talas-pontianak-komposisi-nutrisi-bahan-makanan.html#.Wi31b9KWa1s. Diakses 6 Desember 2017. Miswinda, 2014. Talas yang luar biasa hebatnya. http://himatipan.ftip. unpad.ac.id/talas-yang-luar-biasa-hebatnya/. Diakses 10 Oktober 2017 Subekti, A dan T.S. Wahyudi, 2015. Penampilan Fenotipik Varietas Lokal Talas Hitam Pada Tiga Sentra Produksi Di Kalimantan Barat.