Kebutuhan gula dalam negeri saat ini makin meningkat namun produksi gula (GKP) baru mampu mencukupi kebutuhan konsumsi langsung. Kebutuhan gula untuk industri makanan dan minuman masih dipasok dari pabrik gula rafinasi yang berbahan baku raw sugar impor. Swasembada gula tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan pabrik dan teknologi serta ketersediaan lahan yang ada saat ini. Beberapa pabrik GKP berbahan baku tebu perlu dilakukan revitalisasi yang membutuhkan biaya yang besar, sehingga perlu dilakukan kebijakan industri gula nasional. Dalam memenuhi kebutuhan gula nasional yang berdaya saing, pemerintah telah melakukan berbagai upaya antara lain: intensifikasi lahan tebu dengan menggunakan benih unggul, peningkaan kualitas dan produktivitas, peningkatan rendemen sehingga produksi gula yang diperoleh bisa lebih besar sekaligus lebih berkualitas. Sebagai gambaran, rata-rata produktivitas tebu di perkebunan milik Holding PTPN III berkisar 67 ton per hektare. Diperoleh produksi tebu 4,67 ton per hektare dengan rendemen 7 persen. Dengan kondisi tersebut, biaya produksi gula saat ini di kisaran Rp 10 ribu per kg. Pemerintah menargetkan Indonesia swasembada gula industri pada 2024, target tersebut ditetapkan tidak semata-mata untuk mewujudkan kedaulatan pangan, tapi juga mensejahterakan petaninya. “Petani tebu adalah pelaku utama swasembada gula. Berdasarkan hal tersebut, program yang dijalankan Kementan dalam rangka pencapaian swasembada gula fokus pada peningkatan kapasitas petani guna meningkatkan produktivitas tebu dan rendemennya. Dalam rangka peningkatan produktivitas tebu, Kementan melalui Ditjen Perkebunan melaksanakan sejumlah strategi, meliputi pemantapan areal, rehabilitasi tanaman, penyediaan agro input berupa pupuk dan benih unggul, penyediaan sarana dan prasarana, peningkatan produktivitas lahan melalui penerapan standar teknis budidaya dan manajemen Tebang Muat dan Angkut (TMA), antisipasi perubahan iklim, serta penetapan harga. Untuk pemantapan areal, Kementan mengembangkan strategi regrouping lahan, yaitu cara pengelolaan lahan tebu yang dimiliki petani dalam satu manajemen. Langkah ini diambil mengingat lahan petani saat ini tidak begitu luas. Lahan petani yang kecil dan berdekatan akan dikelola secara bersama dalam satu koordinasi, yaitu ada petani, provider, dan pabrik gula. Dengan cara ini, petani tidak lagi berjalan sendiri. Kementan juga memahami permasalahan petani yang masih dihadapkan pada keterbatasan alsintan. Untuk itu, Kementan juga mengembangkan program mekanisasi di lahan tebu rakyat. Mekanisasi di lahan tebu ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya garap dan waktu pengolahan lahan. Bantuan mekanisasi diberikan kepada kelompok tani atau koperasi berbasis tebu berupa mesin pengolahan lahan tebu, mesin muat tebu, alat pemupukan, mesin tebang tebu seperti cane thumper dan mini harvester, serta alat angkut tebu (dump truck),” ungkapnya. Langkah lain yang dilakukan Kementan adalah rehabilitasi tanaman dengan program penggantian bibit unggul atau bongkar ratoon. Anggaran bongkar ratoon dialokasikan untuk 10.000 hektar kebun rakyat, salah satu daerah yang akan dijadikan program bongkar ratoon ada di wilayah binaan Pabrik Gula Krebet Baru Penggunaan benih-benih unggul juga akan meningkatkan rendemen tebu. Saat ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan sedang menggenjot pengembangan benih-benih unggul untuk komoditas prioritas swasembada, salah satunya tebu. Dua tahun terakhir, Kementan sudah menghasilkan tebu dengan rendemen 12% dan sedang diteliti untuk menghasilkan tebu dengan rendemen 14%. Selain itu Peningkatan produktivitas dan produksi juga akan didorong melalui investasi pembangunan pabrik gula baru. Hinggat 2019 targetnya ada 11 pabrik gula baru terbangun. Sejak 2016, sudah ada 4 pabrik gula baru dari target tersebut yang rampung dibangun, yaitu di Blora, Lamongan, Lampung, dan Dompu. Kehadiran pabrik-pabrik gula baru ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi gula, tapi juga membangun kemitraan yang saling menguntungkan antara petani dan pabrik gula. Pabrik gula dapat berperan dalam menentukan dan mengkoordinir kapan petani harus memupuk, bibit yang dipakai, menanam, tebang, muat dan angkut. (Sri Puji Rahayu/yayuk_edi@yahoo.com)