Pada tahun 2008 jumlah penduduk Kabupaten Halmahera Tengah sebanyak 40.514 jiwa yang terdiri dari 20.822 laki-laki dan 19.692 perempuan. Apabila dibandingkan dengan luas wilayah daerah Halmahera Tengah maka rata-rata penduduk per km2 atau kepadatan penduduk adalah 21 jiwa per km2. Selanjutnya bila dilihat dari penyebaran penduduk ditiap kecamatan, maka Kecamatan Patani Utara merupakan yang paling banyak penduduknya dengan jumlah penduduk sebanyak 8.488 jiwa atau 20.95%, dan kecamatan berpenduduk paling sedikit adalah Kecamatan Pulau Gebe dengan jumlah penduduk sebanyak 4.272 jiwa atau 10.54%. Bila dilihat dari kepadatan penduduk maka Kecapatan Patani Utara adalah yang terpadat dengan jumlah 160 jiwa per km2, menyusul Patani dengan 63 jiwa per km2, sedangkan kecamatan yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Weda Utara dengan 7 jiwa per km2. Kabupaten Halmahera Tengah memiliki berbagai potensi sumberdaya alam yang cukup melimpah. Hal ini menyebabkan ia menjadi daerah tujuan bagi beberapa etnis pendatang seperti etnis Bugis Makassar, Buton, Gorontalo, dan Jawa. Potensi lahan di daerah ini didominasi oleh lahan pertanian dan perkebunan, sedangkan sawah sangat terbatas hanya ada di kecamatan Weda dan Weda Selatan. Pembangunan pertanian adalah proses untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat tani. Di Indonesia pembangunan pertanian merupakan bagian terpenting dari pembangunan Nasional karena sebagian besar penduduk Indonesia menggantungkan kehidupannya dari sektor pertanian. Untuk itu diperlukan Sumber Daya Manusia yang bekualitas di dalam pembagunan pertanian. Dalam hal ini masyarakat diajarkan untuk menggali dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga serta masyarakat di sekelilingnya. Oleh karena itu kegiatan pendampingan difokuskan pada perubahan perilaku masyarakat agar menjadi mandiri dan kreatif dalam mengembangkan suatu usaha yang produktif. Pembangunan dan pemantapan ketahanan pangan mempunyai prespektif pembangunan yang sangat mendasar dan strategis , karena : 1) akses terhadap pangan dengan gizi seimbang bagi segenap rakyat Indonesia merupakan hak yang paling asasi bagi manusia ;) keberhasilan dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia sangat ditentukan oleh keberhasilan pemenuhan kecukupan dan konsumsi pangan dan gizi; dan 3) ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional yang berkelanjutan. Pelaksanaan pengembangan dan pemantapan ketahanan pangan melibatkan banyak pelaku dari berbagai aspek serta mencakup interaksi antar wilayah, oleh sebab itu pengembangan dan pemantapan ketahanan pangan hanya dapat diwujudkan melalui suatu kerja sama kolektif dari seluruh pihak yang terkait (stakeholder), khususnya masyarakat produsen, pengolah, pemasar dan konsumen pangan. Mengigat kompleksitas permasalahan dan penanganan ketahanan pangan ini, melalui Keputusan Presiden No 132 tahun 2001 dibentuk Dewan Ketahanan Pangan yang bertugas membantu presiden dalam: a) merumuskan kebijakan pemantapan ketahanan pangan yang mencakup aspek ketersediaan , distribusi, dan konsumsi serta mutu, gizi, dan keamanan pangan; dan b) melaksanakan evaluasi dan pengendalian pemantapan ketahanan pangan. Memahami peran strategis pertanian dalam perekonomian nasional maka "Pembangunan Pertanian Berkelanjutan" merupakan strategis jangka panjang yang harus diterapkan pemerintah dalam membangun sektor pertanian. Pembangunan pertanian berkelanjutan secara umum dicirikan oleh 1) Kemampuan tumbuh secara stabil, 2) Sumber daya pertanian dikelola secara bijaksana dalam prespektif jangka panjang, dan 3) Kegiatan pembangunan yang dilakukan mampu menciptakan pemerataan. Aspek pengelolaan sumber daya pertanian utamanya diperlukan dalam rangka menghindari degradasi kapasitas produksi pertanian yang dapat berdampak kepada turunnya penawaran produk pertanian. Sedangkan aspek pemerataan perlu dikedepankan untuk menghindari fenomena demand trap yang dapat menghambat pertumbuhan akibat stagnasi pertumbuhan permintaan. Jika kedua aspek tersebut dapat ditangani dengan baik maka sektor pertanian dapat diharapkan mampu tumbuh dengan stabilitas tinggi. Dewasa ini dijumpai gejala yang menarik, disatu sisi masyarakat (pertanian) dihadapkan pada keterbatasan lahan, namun disisi lain lahan kering yang tersedia di luar Jawa relatif masih luas. Gejala lain, di satu sisi ekonomi nasional dihadapkan pada Kelangkaan sumberdaya untuk mengatasi krisis dan di sisi lain sumberdaya lahan kering di luar Jawa yang relatif luas menanti sentuhan tangan terampil dari kalangan ahli pertanian dan kucuran investasi agar dapat menjadi alternatif pemberdayaan ekonomi masyarakt (pedesaan) yang andal. Jika lahan kering yang ada saat ini bisa diberdayakan , munculnya gejala kekurangan pangan , krisis ekonomi dan terjadinya pengulangan krisis ekonomi dikemudian hari kemungkinan besar dapat diatasi. Pangan merupakan kebutuhan essensial dan paling strategis dalam kehidupan manusia. Secara makro masalah pangan dapat bergeser tingkat prioritasnya pada aspek politik, ekonomi dan sosial, namun secara mikro peranan pangan sebagai pemenuhan kebutuhan manusia tidak mengalami perubahan. Produksi pangan secara nasional sebagian besar dilaksanakan oleh petani dengan skala usaha kecil masyarakat miskin di pedesaan, maka pembangunan ketahanan pangan sangat strategis untuk memperkuat ekonomi pedesaan dan mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan kerawanan pangan. Selain itu alasan penting perlunya pembangunan di pedesaan karena (1) masih adanya masyarakat yang memiliki kemampuan rendah dalam mengakses pangan yang disebabkan oleh keterbatasnya penguasaan sumber daya alam, (2) masih adanya kemiskinan struktural, (3) masih minimnya sarana dan prasarana, (4).masih terbatasnya pengetahuan tentang pangan dengan pola 3B serta terbatasnya akses masyarakat terhadap lembaga pemasaran, informasi dan teknologi. Kabupaten Halmahera Tengah dengan luas wilayah laut yang lebih besar (93,85 %) tentu memiliki masalah kerawanan pangan yang berbeda dengan daerah lain antara lain seperti : (1) Dari segi ketersediaan pangan belum seluruhnya tersedia secara cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah ini sehingga perlu mengimport beberapa bahan pangan dari daerah lain, (2) rendahnya tingkat pendapatan keluarga sehingga berpengaruh terhadap daya beli masyarakat, (3) minimnya sarana dan prasarana penunjang di daerah perdesaan menyebabkan aksesibilitas masyarakat tidak maksimal untuk mengembangkan potensi alam yang ada sehingga potensi yang ada diolah secara sederhana atau tradisional. Sebagai solusi untuk mengatasi kendala - kendala di atas maka perlu dilakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pendampingan, pembinaan, pelatihan dan bantuan peralatan bagi petani/nelayan untuk mendukung peningkatan produksi pangan maupun pengambangan usaha ekonomi produktif sehingga peningkatan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dapat tercapai. Tujuan Pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan taraf hidup keluarga petani miskin secara berkelanjutan di Kabupaten Halmahera Tengah melalui peningkatan taraf hidup dan pemberdayaan masyarakat, peningkatan produksi dan usaha tani terpadu, pembangunan sumberdaya alam dan prasarana pedesaan, serta dukungan kelembagaan pelaksana dan manajemen proyek (Jufri Hi. Ahmad, SP)