Loading...

Urban Farming Ala Kota Tangerang

Urban Farming Ala Kota Tangerang
Oleh Hj. Linda Nurhayati, S. Pt - Penyuluh Pertanian Muda Kota Tangerang sebagai daerah penyangga Jakarta mengalami degradasi lahan pertanian yang sangat cepat. Lahan pertanian semakin menyempit setiap tahunnya. Hal ini karena banyaknya lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi perumahan, mall, sekolah, perkantoran, pergudangan, industry, perluasan bandara dan lain sebagainya. Untuk menanggulangi degradasi lahan pertanian, Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan baik di perkantoran maupun di pekarangan rumah sebagai tempat menanam tanaman dan mengembangkan pertanian urban untuk menanam tanaman hortikultura, tanaman hias dengan menggunakan sistem tanam hidroponik. Menurut Wikipedia Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas. Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa tanah. Sehingga hidroponik dapat diartikan sebagai cara budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media atau soilless. Dengan budidaya tanaman secara hidroponik, hasil panen akan jauh lebih banyak karena tidak ada hasil panen yang dibuang dan tanaman juga bersih, tidak mudah terserang hama, gulma, dan penyakit. Selain itu hasil panen dengan menggunakan tehnik hidroponik membuat sayuran lebih renyah dan bergizi sebab karena tanaman bebas pestisida sehingga sangat sehat di konsumsi kemudian budiaya pun tidak dipengaruhi oleh musim. Dengan banyak keuntungan tersebut maka Dinas Ketahanan Pangan bersama penyuluh pertanian menggalakan pertanian urban ala Kota Tangerang. Cara budidaya hidroponik terdiri dari berbagai macam, namun yang diterapkan oleh Kota Tangerang adalah Continuous flow solution culture seperti nutrient film technique (NFT) dan Deep floe technique (DFT). Penyuluh pertanian kota tangerang mendampingi masyarakat terutama kelompok tani dan KWT agar mau memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam sayuran dengan menggunakan metode hidroponik dengan memanfaatkan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan rumah seperti gelas, toples, ember, botol air mineral, ataupun bak mandi. Untuk wadah bening harus dibungkus dengan alumunium fotl atau dicat agar tidak mudah tumbuh lumut. Salah satu bagian dilubangi dan diisi satu atau beberapa tanaman untuk setiap wadah kemudian dimasukan lembaran gabus yang dilubangi dan disisi pot kecil diisi media tanam agar akarnya tercelup langsung ke wadah air. Air yang mengisi pot larutan nutrient sebagai sumber hara tanaman. Pemerintah kota Tangerang mengembangkan urban farming hidroponik menggunakan paralon yang dilubangi kemudian dirangkai sehingga paralon dapat mengalirkan air secara sirkular dan dibawahnya terdapat wadah untuk menampung air dan nutrient. Agar larutan nutrien dapat bersirkulasi secara merata, maka perlu diberi oksigen dengan menggunakan mesin penggelembung udara atau disebut aerator atau dengan penggunakan pompa air yang umumnya biasa dipakai di aquarium. Sedangkan untuk skala yang lebih besar dapat menggunakan pompa bertenaga medium (yang biasa dipakai untuk pancuran kolam dan taman). Sirkulasi air yang berisi nutrient diperlukan agar larutan yang berada di bagian bawah dapat bertukar sehingga semua nutrient mampu terserap oleh akar. Larutan nutrient dapat diganti sesuai jadwal atau sesuai prosedur. Setiap kali larutan berkurang hingga di bawah tingkat tertentu, maka perlu menambahkan air atau larutan nutrisi segar sesuai dengan kebutuhan masing-masing tanaman yang dinyatakan dengan satuan TDS (Total Solid Dissolved) atau ppm (part per million) yang diperlukan. Sumber : Wikipedia. Hidroponik. https://id.wikipedia.org/wiki/Hidroponik