Loading...

VARIETAS PADI HIBRIDA

VARIETAS PADI HIBRIDA
Dalam rangka mendukung upaya peningkatan produksi pangan nasional, Pusat Penelitian Tanaman Pangan, Badan Penelitian Pertanian terus melakukan penelitian guna mendapatkan teknologi produksi yang efesien dan berwawasan lingkungan. Di antara teknologi yang dihasilkan melalui penelitian, varietas unggul padi sangat besar perannya dalam meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman di masing-masing agroekosistem. Varietas unggul padi memiliki peranan yang paling menonjol, baik dalam kontribusinya terhadap peningkatan hasil, maupun sebagai salah satu komponen utama dalam pengendalian hama dan penyakit sehingga dapat menekan penggunaan pestisida. Dalam hal ini, varietas unggul pada umumnya berumur lebih pendek/genjah bila dibandingkan dengan varietas lokal. Umur tanaman yang penting ini mempunyai arti yang sangat penting bagi petani untuk mengatur pola tanamnya dalam setahun. Berkaitan dengan ini, banyak varietas unggul yang sudah dilepas lembaga penelitian tetapi yang digunakan petani masih sangat terbatas sehingga perlu disosialisasikan. Untuk itu, Badan Penelitian Pertanian sejak dulu telah merakit beberapa varietas unggul seperti padi hibrida Hipa 3, Hipa 4, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, Sembada B3, Sembada B5, Sembada B8, Sembada B9. Oleh karena itu, publikasi mengenai varietas padi hibrida ini penting, baik bagi petani, penyuluh pertanian, pemulia, produsen benih maupun khalayak yang tertarik untuk mengetahui seluk beluk tentang varietas padi hibrida yang mempunyai keunggulan tersendiri. Benih padi hibrida adalah generasi filial pertama (F1) dari suatu persilangan dua varietas yang secara genetis berbeda. Benih padi hibrida diproduksi bila sel telur dibuahi oleh serbuk sari dari kepala sari yang berasal dari vareitas/galur tanaman padi yang berbeda. Biji padi yang telah matang dan kondisi lingkungan yang sesuai untuk berkecambah tumbuh menjadi tanaman yang normal, disebut benih padi. Sedangkan biji padi yang telah matang dan dapat atau tidak dapat berkecambah, serta digunakan untuk konsumsi, bukan merupakan benih. Hanya benih yang dapat digunakan petani untuk keperluan budidaya petani. Bagian-bagian benih, yaitu : (1) Embrio atau plasma akan tumbuh menjadi tanaman muda yang mempunyai batang dan akar; (2) Endosperma adalah cadangan makanan yang tersedia untuk pertumbuhan embrio pada awal pertumbuhan, sebagian besar endosperma mengandung pati, disamping itu juga mengandung protein dan lemak; (3) Benih ditutupi oleh kulit yang keras atau sekam (Hull); (4) Sebagaian besar varietas padi (yang dibudidayakan) tidak mempunyai bulu atau berbulu sangat kecil. Keunggulan padi hibrida merupakan padi yang cocok ditanam di sawah dataran rendah, tidak endemik hama/penyakit utama (SDR-OPT), mempunyai potensi produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 7,3 - 12,4 Ton/ha. Contoh varietas padi hibrida : 1. HIPA-3 - umur tanaman 116 - 120 hari - produksi rata-ratan 8 ton/ha GKG - potensi hasil 11 ton/ha GKG - tekstur nasi sedang - agak tahan wereng coklat biotipe 2, penyakit hawar daun bakteri strain IV dan VIII serta tungro - dianjurkan ditanam mengikuti kaidah PTT 2. HIPA-4 - umur tanaman 114 - 116 hari - produksi rata-rata 8 ton/ha GKG - potensi hasil 10 ton/ha GKG - tekstur nasi kurang - agak tahan wereng coklat biotipe 2, penyakit hawar daun bakteri strain IV dan VIII serta tungro - dianjurkan ditanam mengikuti kaidah PTT 3. Hipa 5 Ceva - umur tanaman 114 - 129 hari - produksi rata-rata 7,3 ton/ha GKG - potensi hasil 8,4 ton/ha GKG - tekstur nasi pulen, rasa enak dan wangi - tahan wereng coklat bioptipe 2, agak tahan penyakit hawar daun bakteri strain IV dan VIII serta agak tahan tungro - tidak ditanam pada daerah endemik hama/penyakit OPT 4. Hipa 6 Jete - umur tanaman 107 - 128 hari - produksi rata-rata 7,4 ton/ha GKG - potensi hasil 10,6 ton/ha GKG - rasa nasi enak - rentan terhadap wereng coklat biotipe 2, agak rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain IV dan VIII serta agak tahan tungro - tidak ditanam pada daerah endemik hama/penyakit OPT 5. Sembada B3 - umur tanaman 117 hari - produksi rata-rata 9,3 ton/ha GKG - potensi hasil 12,4 ton/ha GKG - tekstur pulen dan rasa enak - agak tahan wereng coklat biotipe 1, peka biotipe 2 dan 3, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, agak peka patotipe IV dan VIII, peka virus tungro - dianjurkan ditanam mengikuti kaidah PTT 6. Sembada B5 - umur tanaman 100 hari - produksi rata-rata 8,5 ton/ha GKG - potensi hasil 11,5 ton/ha GKG - tekstur pulen dan rasa enak - agak peka wereng coklat biotipe 1, peka biotipe 2 dan 3, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, agak peka patotipe IV dan VIII, peka virus tungro - dianjurkan ditanam pada musim kemarau dan mengikuti kaidah PTT 7. Sembada B8 - umur tanaman 113 hari - produksi rata-rata 9,6 ton/ha GKG - potensi hasil 12,1 ton/ha GKG - tekstur pulen dan rasa enak - agak peka wereng coklat biotipe 1, peka biotipe 3 dan agak tahan biotipe 2, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, agak peka patotipe IV dan VIII, peka virus tungro - dianjurkan ditanam mengikuti kaidah PTT 8. Sembada B9 - umur tanaman 113 hari - produksi rata-rata 9,8 ton/ha GKG - potensi hasil 12,4 ton/ha GKG - tekstur pulen dan rasa enak - agak tahan wereng coklat biotipe 1 dan 2, peka biotipe 3, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan patotipe IV dan agak peka patotipe VIII, peka virus tungro - dianjurkan ditanam mengikuti kaidah PTT (Sri Hartati) Sumber : 1. Petunjuk Teknis Produksi Benih Padi Hibrida, Pusat Penelitian Tanaman Pangan:, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Tahun 2006; 2. Deskripsi Varietas Padi, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi -Sukamandi Subang, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Tahun 2007; 3. Deskripsi Varietas Tanaman Pangan Th 2008, Direktorat Perbenihan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun 2008