Loading...

VARIETAS UNGGUL BARU INPARA 6 DAN INPARA 8 ADAPTIF DI LAHAN PASANG SURUT KABUPATEN SAMBAS

VARIETAS UNGGUL BARU INPARA 6 DAN INPARA 8 ADAPTIF DI LAHAN PASANG SURUT KABUPATEN SAMBAS
Kabupaten Sambas merupakan salah satu sentra penghasil padi di Kalimantan Barat. Namun provitasnya masih rendah. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Sambas (2015), provitas padi di Kabupaten Sambas tahun 2014 hanya 33,29 ku/ha. Salah satunya disebabkan oleh sebagian besar petani masih menggunakan varietas lokal dan sekitar 24,82% lahan di kabupaten Sambas merupakan lahan pasang surut. Dalam pengembangannya untuk pertanian, lahan rawa pasang surut khususnya tanaman padi sering menghadapi kendala seperti: (1) genangan air dan kondisi fisik lahan, (2) kemasaman tanah tinggi karena kelarutan aluminium (Al3+), besi ferri (Fe3+), dan sulfat (SO42-) yang tinggi, (3) ketersediaan unsur hara menurun dan pada kondisi terreduksi sering muncul masalah keracunan besi ferro (Fe2+), dihidrogen sulfida (H2S), karbon dioksida (CO2), dan asam-asam organic (Alwi, 2014). Disisi lain, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Padi, telah banyak menghasilkan varietas unggul yang adaptif di lahan pasang surut dan memiliki ketahanan terhadap Fe dan Al seperti Air Tenggulang, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 6, Inpara 7 dan terbaru Inpara 8 yang dilepas oleh Kementerian Pertanian tahun 2014 (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015). Dalam rangka meningkatkan produktivitas padi dan memperkenalkan varietas unggul baru Inpara 6 dan Inpara 8, maka dilakukan kegiatan demfarm padi di Kabupaten Sambas. Kegiatan ini dilaksanakan di lahan pasang surut desa Lonam Kecamatan Pemangkat Kabupaten Sambas di kelompoktani Dewi Mulya I pada musim gadu dari bulan Mei “ September 2016. Teknologi yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah teknologi budidaya padi dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dengan komponen teknologi sebagai berikut :1. Varietas unggul baru Inpara 6 dan Inpara 82. Benih bermutu kelas SS (stock seed) label ungu 3. Pengolahan tanah dilakukan dengan olah tanah sempurna menggunakan hand traktor.4. Pengembalian jerami ke lahan. 5. Penggunaan bibit muda 18 HST6. Sistem tanam dengan legowo 4:1 tipe 1, dimana pola tanam legowo dengan keseluruhan baris mendapat tanaman sisipan. Digunakannya pola ini, karena pola ini cocok diterapkan pada lahan-lahan kurang subur (lahan sub optimal) seperti lahan pasang surut. 7. Penyulaman dilakukan 1 (satu) minggu setelah tanam8. Penggunaan pemupukan berdasarkan hasil analisa tanah dengan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) dengan rekomendasi pemupukan 200 kg urea/ha, 100 kg SP36/ha dan 50 kg KCl/ha. Namun karena sebagian besar petani menggunakan pupuk NPK 15:15:15 maka hasil rekomendasi ini dikonversi ke dalam pupuk NPK 15:15:15 menjadi 200 kg NPK/ha, 135 kg urea/ha dan 17 kg SP36/ha dan dosis pupuk inilah yang digunakan pada kegiatan demfarm padi di Kecamatan Pemangkat.9. Pengendalian OPT sesuai tingkat serangan10. Penyiangan gulma 11. Panen Panen dilakukan di pagi atau sore hari pada cuaca cerah, dimana 90% malai sudah menguning. Panen dilakukan dengan menggunakan sabit.Dengan menggunakan komponen Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) seperti di atas, diperoleh rata-rata produktivitas Inpara 6 sebesar 6,36 ton/ha GKP dan Inpara 8 sebesar 6,53 ton/ha GKP, sedangkan petani disekitarnya yang menggunakan varietas lokal menghasilkan produksi rata-rata 3,52 ton/ha GKP dan kegiatan Kebun Benih Desa (KBD) yang merupakan program dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sambas dengan menggunakan varietas Inpari 30 sebesar 6,25 ton/ha GKP. Disamping itu, varietas Inpara 6 dan Inpara 8 yang digunakan memiliki ketahanan terhadap Fe dan Al. Hal ini terbukti, pada saat fase vegetatif tanaman padi di beberapa lokasi yang lahannya tergenang nampak adanya Fe yang ditandai dengan airnya yang berwarna merah, namun setelah air surut dan kering tidak nampak adaya keracunan Fe pada tanaman padi, yang akhirnya dapat memberikan hasil yang cukup memuaskan. Berdasarkan wawancara dengan petani kooperator, mereka tertarik dengan varietas Inpara 6 dan Inpara 8 ini karena menurut mereka varietas ini selain memiliki produktivitas yang tinggi juga memiliki malai yang panjang seperti varietas lokal. Untuk itu pada musim hujan (MH) 2016/2017 ini, mereka merencanakan akan mengggunakan benih Inpara 6 dan Inpara 8 yang sudah mereka daftarkan ke PBSB (Sari Nurita). Sumber :1. Alwi, M. 2014. Prospek Lahan Pasang Surut Untuk Tanaman Padi. Prosiding Seminar Nasional "Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi", Banjarbaru 6-7 Agustus 20142. Badan Pusat Statistik, 2015. Kabupaten Sambas Dalam Angka Tahun 2015.3. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015. Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi