WASPADAI SERANGAN HAMA PENGGEREK BATANG PADI DENGAN INDEKS PERTANAMAN (ip 200-300)
Komitmen pemerintah untuk meningkatkan produksi beras selain untuk mengantisipasi pertumbuhan konsumsi sebagai dampak pertumbuhan penduduk, juga cara yang sangat strategis dalam rangka menegakkan kedaulatan pangan di negeri ini. Untuk memantapkan ketahanan pangan nasional maka produksi beras harus mencapai 10 juta ton di tahun 2014. Meskipun semua upaya yang dilakukan untuk pencapaian peningkatan produksi beras nasional namun perlu diwaspadai bagi areal, lahan sawah beririgasi teknis dengan indek pertanaman 200-300 terhadap serangan hama penggerek batang padi. Di Indonesia terdapat empat jenis hama penggerek batang padi yakni penggerek batang padi kuning (Triporyza incertulas WLK), penggerek batang padi putih (Triporyza inotata WLK), penggerek batang padi bergaris (Chilo superssalis WLK) dan penggerek batang padi merah jambu (Triporyza incertulas WLK). Hama-hama tersebut termasuk hama utama tanaman padi yang menyebabkan kerusakan yang serius dengan ciri kerusakan yang sama yaitu malai berwana putih dan hampa. Ngengat aktif pada malam hari, sedangkan pada siang hari bersmbunyi di tanaman atau rerumputan. Ngengat mampu terbang jauh, satu betina mampu menghasilkan 200-300 butir telur dengan lama hidup 4 hari (Sudarmo). Mengapa serangan hama ini meningkat pada IP 200-300, karena cukup tersedia makanan untuk keberlangsungan hidupnya. Selama tidak dilakukan pergiliran tanaman maka hama ini dapat berkembangbiak berlipat ganda. Di masa larva instar pertama yang muda akan merusak daun muda dan pelepah daun, gejala yang terlihat adalah pucuk daun yang baru tumbuh berwarna kuning kemerahan. Setelah selesai menyerang, larva akan berpindah pada daun yang belum terserang untuk merusak sehingga serangan pada masa ini disebut hama sundep. Serangan hama sundep terjadi pada pertumbuhan vegetatif tanaman sampai pertumbuhan biologis hama tersebut mencapai instar kedua. Masa instar kedua dan ketiga berlangsung sampai dengan tanaman padi memasuki fase pertumbuhan generatif sehingga larva dewasa akan membuat lubang disamping batang padi dekat buku terakhir dimana tempat tumbuhnya malai padi. Bersamaan dengan masak susu, hama instar ketiga ini akan terus menyerang tanaman padi hingga kelihatan malai berwarna putih dan hampa. Pada fase ini dampak dari serangan hama ini disebut beluk. Demikian pula pupa/ kepompong berada di dalam batang dekat permukaan tanah sambil berdiapose/ beristerahat sementara, istirahatnya di dalam jerami yang baru panen, di rerumputan famili padi-padian sambil menunggu kondisi iklim yang cocok untuk kembali menjadi kupu-kupu/ imago dan siap untuk bertelur dan selanjutnya menjadi larva. Disaat menjadi kupu-kupu/ imago umumnya bersamaan dengan pengolahan tanah dan pembuatan pesemaian untuk IP 200, sehingga nampak yang terlihat pada tempat pesemaian didatangi imago dari hama penggerek batang. Hal yang paling berbahaya dari hama penggerek batang adalah larva atau ulat hama ini mulai menyerang tanaman padi dari instar pertama sampai instar ketiga sebelum menjadi pupa dan kupu-kupu lagi. Solusi untuk melakukan pengendalian terhadap hama ini adalah dengan melakukan pergiliran tanaman yakni : a. padi-palawija-padi, karena hama penggerek batang tidak dapat hidup kalau tidak tersedia tanaman padi ( memutuskan siklus hidupnya). b. Selain itu juga dapat meletakkan baskom berisi air bercampur sedikit minyak tanah di bawah lampu perangkap dengan tujuan mengurangi populasi karena imagonya tertarik pada cahaya; c. Melakukan kegiatan tanam secara serentak d. Membakar jerami yang terserang hama penggerek batang untuk memusnahkan imago yang bersembunyi dalam batang jerami e. Melakukan pengamatan secara dini sejak fase pertumbuhan vegetatif untuk mengambil keputusan melakukan tindakan pengendalian secara kimiawi menggunakan pestisida. Ditulis oleh : Owa Maria, SST (PPL Kecamatan Kupang Tengah)